foto

Warga mengantre dalam promo diskon setengah harga penjualan BlackBerry Bellagio atau BlackBerry Bold 9790 di Pacific Place, Jakarta (25/11). Kelanjutan promo akan diumumkan melalui media massa. TEMPO/Dasril Roszandi

Di Sini, BlackBerry Masih Bertaji

TEMPO.CO, Jakarta - Dua tahun lalu, Asfitri, 25 tahun, merasa bangga menggenggam BlackBerry. Telepon seluler cerdas keluaran Research In Motion (RIM) ini merupakan produk eksklusif. Tapi sekarang, pegawai swasta di Bali ini jengah saat banyak orang mulai memakai BlackBerry dengan fasilitas BlackBerry Messenger (BBM) secara berlebihan. “Banyak yang broadcast enggak penting, jadi merasa terganggu,” kata Asfitri. Ia pun mengganti BlackBerry Gemini kesayangannya dengan ponsel Android.

Berbeda dengan Asfitri, Yuliani setia menggunakan ponsel cerdas BlackBerry. Sudah lebih dari dua tahun, ibu satu anak ini memakainya. “Sepertinya saya akan pakai BlackBerry terus karena komunikasi dengan teman atau keluarga paling banyak menggunakan layanan BBM,” ujarnya.

Darwin Lie, analis dari International Data Corporation (IDC) Indonesia, mengatakan fasilitas BBM memang salah satu kekuatan utama BlackBerry. “BlackBerry Messenger dan koneksi ke media sosial yang begitu mudah membuat ponsel ini bisa mempertahankan pelanggannya,” ujar Darwin.

Pada awal tahun ini, IDC mengungkapkan bahwa BlackBerry merupakan ponsel cerdas teratas di Indonesia pada 2011. Kemudian diikuti oleh Samsung dan HTC. “Pertumbuhan pengapalan BlackBerry pada 2011 mencapai 90 persen,” katanya.

Ia yakin pertumbuhan pasar ponsel BlackBerry di Indonesia masih tumbuh positif pada tahun ini, meski angkanya tidak akan sebesar tahun lalu. Menurut Darwin, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan RIM untuk mendongkrak potensi pasar di Indonesia. Misalnya dengan menghadirkan user-interface yang lebih baik dan sistem operasi baru.

Djatmiko Wardoyo, Direktur Marketing dan Communications PT Erajaya Swasembada, distributor BlackBerry, tidak sependapat dengan Darwin. “Sistem operasi tidak terlalu menjadi pertimbangan dalam memilih ponsel, kecuali bagi penggemar gadget,” kata Djatmiko.

Konsumen, dia mengatakan, biasanya tak ambil pusing tentang sistem operasi sepanjang fasilitas BlackBerry dapat dinikmati. “Indonesia adalah pasar yang unik karena didorong rasa gengsi,” ujarnya. Selama gengsi itu bisa dipertahankan, BlackBerry akan tetap di posisi teratas.

Menurut Djatmiko, saat ini BlackBerry masih berada pada posisi teratas pasar ponsel cerdas di Indonesia, meski di dunia pamornya mulai turun. “Pengguna layanannya mencapai 5,5 sampai 6 juta. Sementara ponsel cerdas lain jumlahnya sekitar 9 sampai 10 juta unit,” katanya.

Adapun ponsel BlackBerry yang paling banyak dicari adalah tipe Gemini karena harganya relatif terjangkau. Meski masih merajai pasar ponsel cerdas di Indonesia, RIM mesti waspada terhadap membanjirnya ponsel Android, terutama dari Samsung. “Produk Samsung sangat bervariasi, mulai dari yang mahal sampai yang murah,” kata Djatmiko.

Senada dengan Djatmiko, Darwin mengatakan ponsel Android murah bakal menggerus pasar BlackBerry. Tapi diperkirakan butuh waktu sekitar delapan bulan untuk melihat reaksi pasar terhadap keberadaan ponsel Android murah.

Darwin dan Djatmiko sepakat BlackBerry masih memiliki masa depan di Indonesia, setidaknya selama setahun ke depan. “BlackBerry adalah salah satu penggerak dalam mengikis pasar feature dan basic phone,” kata Djatmiko.

RATNANING ASIH