foto

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam pameran foto "Hyperfocal Distance", di Bentara Budaya Yogyakarta, Minggu (05/02). TEMPO/Suryo Wibowo

Memotret Obyek yang Tak Lazim  

TEMPO.CO, Yogyakarta - Tiga seniman foto memamerkan karya foto yang tak biasa, dalam pameran bertajuk Hyperfocal Distance di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-12 Februari 2012. Ketiganya, Agus Heru, M.A. Roziq dan Windujati, tidak memperlakukan obyek sebagaimana adanya. Obyek yang mereka tangkap lewat lensa kamera pun bukan obyek yang lazim sebagai sasaran jepretan kamera.



 



 



 



Mereka menyusun, menyoroti dari jarak dekat, dan merekayasa obyek sehingga menimbulkan makna yang lebih komplek dan estetis. Misalnya saja karya Agus yang mengangkat narasi lingkungan hidup.



 



 



 



Pada foto serial berjudul ‘[r] evolution of the plants’ Agus memotret secara hipermakro benih kecambah hingga kacang tanah bak janin manusia di dalam rahim. “Sering kita lupa, makanan yang tersaji di meja makan kita sejak ribuan tahun lalu pun juga terus tumbuh, melawan ganasnya iklim dan cuaca, atau kesesuaian adaptasi, seperti manusia,” kata dia.



 



 



 



Sementara itu, M. A. Roziq pada karya foto bertajuk Sinyal Kehancuran memotret susunan horizontal batang korek api yang separo sudah menghitam karena terbakar. Tapi di satu sudut dia menampilkan satu batang korek api yang sedang menyala dengan api biru meliuk. Pada karya lain dia memotret sehelai daun jati yang mengerut karena kering yang disangga sebatang korek yang masih utuh.



 



 



 



Adapun Windujati bermain dengan idiom abstrak lewat pantulan cahaya yang dipantulkan satu obyek. Pada karyanyanya berjudul Mengurai Galau, Windu mencoba menangkap lompatan cahaya yang masuk dari ratusan lubang ventilasi yang mencitrakan keteraturan pola berkas cahaya.



 



 



 



Kurator pameran itu Rusnoto Susanto menuturkan, wacana Hyperfocal Distance merupakan perspektif bagaimana karya seni fotografi dapat dirujuk karena mampu membuka ruang bagi kita untuk berada pada celah atau detail dalam mencermati subyek. “Subyek muncul sebagai potensi konseptual yang hidup, tumbuh-berkembang dan memiliki daya hidup sebagai titik strategis proses penciptaan seni fotografi,” katanya.



 



 



 



PRIBADI WICAKSONO