foto

AP/NOAA

Serangan Udara Dingin Eropa dari Kutub Utara

TEMPO.CO ,--Udara dingin berhembus di setiap sudut kota Jenewa yang tertutup salju. Tak banyak penduduk menikmati jalanan, termasuk para ahli meteorologi seluruh dunia yang tengah bertemu di kota pinggir danau itu.

Edvin Aldrian adalah salah seorang yang ikut dalam pertemuan World Meteorological Organization tersebut. Kepala Pusat Perubahan Iklim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini terpaksa lebih banyak berada di dalam ruangan berpengatur suhu udara. "Saya jarang keluar. Dingin sekali," ujar dia saat dihubungi Jumat, 3 Februari 2012.

Peserta pertemuan WMO kali ini merapat ke Jenewa bersamaan dengan kedatangan hembusan udara dingin dari utara. Sejak Januari lalu, aliran udara raksasa ini menyelimuti sebagian besar dataran Eropa, membuat benua ini mengalami cuaca dingin ekstrem. Jumat lalu, suhu udara Jenewa menjelang siang mencapai -10 derajat Celsius, lebih rendah dari rata-rata suhu udara terdingin yang sekitar -1 derajat Celsius.

Dalam ilmu cuaca, aliran udara dingin ini dikenal sebagai gelombang Rossby. Gelombang ini muncul akibat udara dingin yang mengurung Kutub Utara merembes ke selatan akibat rotasi bumi.

Namun aliran kali ini lebih kuat. Saat ini di atmosfer di kawasan khatulistiwa sedang mengalami tekanan rendah. Hal ini terbukti dengan munculnya banyak siklon tropis di sekitar pita ekuator, menciptakan hujan lebat dan angin kencang di negara tropis seperti Indonesia.

Tekanan rendah di khatulistiwa inilah yang memicu pergerakan gesit gelombang Rossby. "Udara dingin dari utara menjadi terlalu kuat," ujar Edvin.

Pantauan para ahli sejauh ini memperlihatkan aliran udara dingin sedang bergerak dari Eropa menuju kawasan timur. Tak heran jika Jepang dan Korea di timur mulai merasakan pengaruh cuaca ekstrem ini. Di Jepang, suhu musim dingin kali ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski diketahui terus merangsek ke timur, gelombang Rossby masih fluktuatif. Karena itu, sulit bagi ahli cuaca meramalkan hingga kapan cuaca ekstrem di Eropa terus berlangsung. Namun hingga Sabtu, 4 Februari 2012, jumlah korban akibat serangan udara dingin dari utara ini telah memakan korban hingga 250 orang. Ukraina merupakan negara terparah dengan 122 korban jiwa menyusul suhu udara yang mencapai 38,1 derajat Celcius.

Cuaca dingin juga mempengaruhi pergerakan manusia. Banyak bandara berhenti beroperasi akibat landasan yang tertutup salju tebal. Jalur kereta api tak luput dari tutupan salju. Akibatnya banyak jadwal penerbangan dan keberangkatan kereta harus tertunda.

Masyarakat Italia juga tersiksa oleh badai salju ini. Sejak sepekan lalu, jadwal pertandingan sepakbola harus dimundurkan dari jadwal semula karena lapangan menjadi tak layak untuk dipakai bertanding. Padahal di negara ini sepakbola dikenal sebagai hiburan rakyat yang dinikmati setiap minggu.

Menurut Edvin, sebenarnya Eropa sering mengalami dingin seperti ini beberapa dekade lampau. Namun seiring peningkatan suhu bumi akibat pemanasan global, cuaca dingin seperti ini seolah menjadi tak biasa.

Lebih jauh, cuaca ekstrem seperti musim dingin yang teramat dingin atau musim kering yang teramat panas akan semakin sering terjadi. Penyebabnya masih sama: pemanasan global. Menurut dia, bumi yang semakin panas mengganggu distribusi massa udara di atmosfer. Kawasan tropis menjadi lebih panas dan basah, sehingga bekerja sebagai mesin penarik udara dingin dari kutub. Akibatnya, negara-negara yang berada di dekat kutub akan mengalami cuaca ekstrem ini.

ANTON WILLIAM



Berita terkait
260 Tewas Akibat Suhu Ekstrem di Eropa
Video 79 Orang Tewas Dibekap Suhu Beku Eropa
Sedikitnya 79 Orang Tewas Dibekap Suhu Beku Eropa
Abu Letupan Gunung di Islandia Menyebar ke Eropa