Ketua KPK, Abraham Samad (dua kiri) didampingi Jajaran Pimpinan baru KPK dari kiri: Zulkarnaen, Adnan Pandupradja, Bambang Widjojanto, dan Busyro Muqoddas di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat (16/12). Kelima Pimpinan baru KPK ini dilantik oleh presiden setelah terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk periode 2011-2015. TEMPO/Seto Wardhana
Infografis
Foto Terkait
Abraham Samad Akui Ada Beda Pendapat di KPK
TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, mengakui ada perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan diantara pimpinan lembaga tersebut. “Biasa aja kan perbedaan pendapat,” kata Abraham Samad seusai menghadiri acara pengukuhan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana menjadi Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM di Gedung Pusat Balai Senat UGM pada Senin, 6 Februari 2012.
Rumor adanya perbedaan pendapat antara pimpinan KPK makin menguat saat Abraham Samad sendiri mengumumkan penetapan tersangka Wakil Sekretaris Jendral Partai Demokrat, Angelina Sondakh, ke media. Selama ini,pengumuman ke publik selalu dihadiri oleh lebih dari satu pimpinan KPK.
Meski begitu, Abraham memastikan keputusan penetapan status tersangka Angelina Sondakh bukan keputusannya sendiri. Kata dia, keputusan itu sudah ditetapkan secara kolegial atau bersama-sama dengan pimpinan lainnya. “Setiap keputusan yag diumumkan ke publik pasti sudah menjadi keputusan bersama,” kata Samad.
Pada kesempatan yang sama, pengacara senior Adnan Buyung Nasution mengkhawatirkan ketidakkompakan pimpinan KPK bisa membuat kinerja lembaga ini melemah. Padahal, lanjut dia, peran KPK saat ini sangat krusial untuk mempercepat pengungkapan tersangka-tersangka baru dalam kasus korupsi yang membelit petinggi-petinggi Partai Demokrat. “Opini masyarakat sudah terbentuk, kalau tak segera tuntas bisa menganggu legitimasi pemerintah dan partai pendukungnya (Demokrat),” kata dia.
Dia mendesak seluruh pimpinan KPK segera menyatukan pendapat dan segera menindaklanjuti semua keterangan Yulianis dan Nazarudin di persidangan kasus suap wisma atlet. “Kalau perlu truk pengangkut uang ke kongres Demokrat segera disita,” kata Buyung.
ADDI MAWAHIBUN IDHOM
Berita Terkait
Angelina Sondakh Pemegang Kartu Bos Besar
Anas Kritik Tukang Kritik yang Tonjolkan Kelemahan
Duduk di Sebelah Anas, Mahfud Sindir Politikus Partai Busuk
Tanpa Undangan, Jangan Harap Masuk Rumah Angie
KPK Akui Lagi Bidik Kasus Hambalang
Angie Mengaku Anaknya Terguncang
Kronologis Penyuapan Jaksa Sistoyo
Ini Alasan KPK Belum Menahan Angie





