AP Photo/Kin Cheung
Foto Terkait
IMF Pangkas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Cina
TEMPO.CO, Shanghai - Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini menjadi hanya 8,25 persen. Padahal September lalu proyeksi pertumbuhan ekonomi 2012 diramalkan mencapai 9 persen. Prediksi IMF didasarkan pada pelemahan ekspor di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Pada laporan pandangan ekonomi Cina yang dirilis Senin, 6 Februari 2012, IMF menyebutkan laju perekonomian Cina yang mencapai 9,2 persen tahun lalu akan turun secara tiba-tiba. Kondisi itu terjadi jika zona euro mengalami resesi tajam.
Penilaian organisasi tersebut bersamaan dengan para investor yang menunggu data perekonomian Cina. Mereka berharap akan terus terjadi kestabilan inflasi tapi melemahkan sektor ekspor.
Meski perkiraan ekonomi menurun, IMF menyebutkan Cina punya ruang untuk menyeimbangkan respons fiskal. Hal ini untuk memberikan stimulus lebih banyak pada ekonomi domestik. IMF mengatakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu bisa memicu kecepatan, sehingga bisa tumbuh 8,75 persen tahun depan.
IMF memperingatkan Beijing harus melakukan stimulus segar melalui anggaran daripada sistem perbankan. Bukan seperti stimuls anti-krisis seperti CN4Y triliun pada 2008, yang menimbulkan pesta pinjaman mnegkhawatirkan.
Inflasi Cina telah mencapai puncaknya dan akan mencapai tingkat yang lebih nyaman. "Jadi memungkinkan pihak berwenang untuk memasok perekonomian dengan kredit tambahan sederhana," kata IMF.
Khusus bank sentral Cina, bisa lebih longgar pada kondisi likuiditas selama beberapa bulan melalui operasi pasar tebuka mingguan. "Jika arus modal tetap tenang, bisa juga memilih untuk giro wajib minimum bank yang lebih rendah," ujarnya.
Bank Rakyat Cina menurunkan rasio cadangan kebutuhan--atau jumlah minimal uang bank komersial yang harus dipertahankan di bank sentral--sebesar 0,5 persen poin pada Desember. Potongan pertama sejak Desember 2008.
IMF juga berkomentar tentang tekanan ke atas pada mata uang yuan yang berkurang baru-baru ini, dengan kecepatan akumulasi cadangan devisa yang juga menurun akibat surplus perdagangan lebih kecil dan menghindari risiko yang lebih tinggi di skala global. Namun transaksi berjalan masih memiliki surplus yang cukup besar dalam dolar Amerika Serikat dan FDI (investasi asing secara langsung) tetap kuat.
Adapun sektor properti, mesin utama pertumbuhan Cina sudah bisa didinginkan dengan efektif. Langkah Beijing dinilai tepat karena pertumbuhan harga dan volume transaksi perumahan telah turun. "Tapi batas pinjaman untuk properti harus dijaga untuk melindungi sistem keuangan dari dampak penurunan permintaan perumahan," tuturnya.
MARKETWATCH | EKA UTAMI APRILIA





