Kisah Anas Urbaningrum Tertidur di Ruang Kelas

Kisah Anas Urbaningrum Tertidur di Ruang Kelas

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum (kiri) dan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD) Edhie Baskoro Yudhoyono. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO , Jakarta:Siapa sangka sosok Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum diingat sebagai anak yang doyan tidur saat masih sekolah. Dia pernah tertinggal di ruang kelas sendirian karena tertidur di bangku kelas.

Cerita unik ini disampaikan Miattu Habbah, guru kelasnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi, Blitar. Saat usai jam pelajaran pukul 14.00 WIB, teman-teman Anas bingung mencari keberadaannya di Pondok Pesantren Al Kamal. Sebab biasanya Anas selalu pulang tepat waktu ke pondok usai mengikuti pendidikan formal di MTs. “Ternyata dia tertidur di dalam ruang kelas yang sudah kosong,” kata Miattu kepada Tempo, Sabtu 4 Februari 2012.

Anas saat ini menjadi sorotan di Partai Demokrat. Tudingan bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin semakin memojokkan posisinya di Demokrat. Desakkan Anas mundur pun menguat setelah pengurus Partai Demokrat Angelina Sondakh menjadi tersangka kasus Wisma Atlet. (Baca:Sedekat Apa Anas dengan Angie? )

Selain doyan tidur, Anas kecil memiliki sifat pendiam dan penurut. Lahir dari anak kiai kampung, Anas tumbuh di lingkungan pesantren tsalafiyah yang ketat dengan nilai agama. Bahkan saking santunnya, tak ada guru yang tega menegur ataupun memarahinya.



Miattu menuturkan, sejak kecil Anas dikaruniai kecerdasan di atas teman sebayanya. Dia selalu tanggap dan cermat mencerna pelajaran di sekolah dan selalu memilih duduk di bangku deretan kedua dari depan. “Tiga tahun pindah kelas dia selalu memilih deretan kedua,” kata Miattu.

Selain cerdas, Anas mampu menulis rapi hingga menjadi asisten guru kelas. Sehingga setiap kali pelajaran menyalin Miattu selalu menunjuk Anas menulis di papan tulis. Sebagai murid dan santri yang hidup di pondok beramai-ramai, Anas tergolong anak pendiam dan tidak nakal. Bahkan guru-gurunya pun tak bisa mengingat perilaku Anas masa sekolah karena tak banyak bertingkah.

Miattu merasa kaget jika pada akhirnya Anas menjadi politikus nasional. Sebab Anas jarang berkomunikasi dengan teman dan gurunya. Dia bahkan bisa disebut sebagai “angka ikut” dalam komunitas lima sekawan di sekolahnya. Mereka adalah Jamil, Ahmad Tanzeh, Sumaji, Munjiat, dan Anas Urbaningrum. Bahkan dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Anas hanya sebagai pelengkap. “Tidak ada yang menyangka jika Anas menjadi politisi besar,” kata Miattu.


HARI TRI WASONO
Berita Terkait
Ramadhan Pohan: Partai Demokrat Seperti Sedang Flu
Ini Alasan KPK Belum Menahan Angie
Cara Angelina Bantah Tuduhan Korupsi

Demokrat Usut Duit 'Pemenangan' Anas
Dinonaktifkan dari Demokrat, Angie Legowo
Angie Ternyata Pemegang Kartu Bos Besar

Duduk di Sebelah Anas, Mahfud Sindir Politikus Partai Busuk

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
3
iku jenenge nakal telat
0
4
cilik ora tau nakal, nakale bareng gede hahaha...
Wajib Baca!
X