Dua kapal nelayan di pelabuhan Hel, Polandia, yang ditutupi salju (5/2). Sejak Januari lalu aliran udara dingin menyelimuti sebagian besar dataran Eropa, membuat benua ini mengalami cuaca dingin ekstrem. REUTERS/Peter Andrews
Topik
Foto Terkait
Cuaca Ekstrem, Harga Gas Eropa Melambung
TEMPO.CO, London - Cuaca ekstrem yang melanda kawasan Eropa mulai berdampak pada harga komoditas. Di beberapa negara suhu dingin yang bisa mencapai minus 20 derajat Celcius memantik kenaikan harga gas secara siginfikan.
Kantor berita BBC mengabarkan harga gas di Inggris naik hingga 24 persen ke level 93 sen per satuan panas. Kenaikan harga kali ini menjadi yang tertinggi selama lebih dari enam tahun. "Bagi pengguna gas skala besar, kenaikan harga kali ini amat buas," kata Jeremy Nicholson, Ketua Asosiasi Konsumen Energi Skala Besar, di Inggris, Selasa 7 Februari 2012.
Harian The Independent mengabarkan permintaan gas harian di Inggris mencapai 396,6 juta kubik meter, naik 68 juta kubik meter dibanding hari biasa. Saat ini diperkirakan terjadi kekurangan pasokan 13,4 juta kubik meter sehari.
Nicholson mengatakan yang paling menderita akibat kenaikan harga ini ialah kalangan industri. Pebisnis biasanya membayar pasokan dengan harga patokan pengiriman beberapa hari ke depan. Akibatnya kenaikan harga yang mereka rasakan jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibanding konsumen eceran atau pengguna akhir.
Sedangkan analis energi dari ICIS Heren, Edward Cox, mengungkapkan meski permintaan gas di Inggris masih jauh di bawah rekor yang dibuat pada 2010, kenaikan harga yang terjadi tetap lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Eropa.
Akibat cuaca dingin yang ekstrem di Eropa, saat ini tercatat lebih dari 200 orang tewas. Di Ukraina korban tewas sedikitnya 130 orang. Demi mereduksi hawa dingin, penggunaan gas terutama di permukiman naik tajam. Hal ini secara otomatis mengerek harga.
Ironisnya, saat gas benar-benar dibutuhkan, kini merebak kekhawatiran adanya pengurangan pasokan dari Rusia, negara produsen gas terbesar. Perusahaan gas pemerintah Rusia, Gazprom, telah menurunkan pasokan ekspor sebanyak 10 persen selama beberapa hari pekan lalu. Akibatnya Eropa kini kelabakan mencari pemasok baru.
FERY FIRMANSYAH





