south film festival
Topik
Festival Film South to South ke-4
TEMPO.CO, Jakarta - Festival Film South to South IV 2012 (StoS) meloloskan 20 film masuk dalam putaran final. Film ini akan diumumkan pada puncak perayaan festival film pada 22-26 Februari nanti di Goethe Institute Menteng, IFI (CCF-Salemba), dan Kine Forum Taman Ismail Marzuki (TIM). Panitia memberi porsi penilaian festival film bertema "Semangat Tanpa Batas" ini pada esensi isu lingkungan.
Dewan juri yang terdiri dari Adrian Jonathan Pasaribu, Perdana Kartawiyuda, Catharina Dwihastarini (dewan juri film pendek fiksi), Arief Ash Shiddiq, Darwin Nugraha, dan Nanang Sujana (dewan juri pendek dokumenter) akan mengumumkan 13 film pendek dokumenter dan 7 film pendek fiksi yang lolos putaran final.
Panitia menerima 32 film pendek fiksi dan 53 film pendek dokumenter dari para pembuat film di Indonesia. Dewan Juri akan menetapkan beberapa karya terbaik. Di antaranya satu karya terbaik film pendek dokumenter, satu film pendek fiksi, satu StoS Award katagori film pendek, film dokumenter pilihan penonton, dan satu film pendek fiksi. Juga special mention pada masing masing kategori kompetisi berdasarkan penilaian juri.
Menurut programer festival film StoS, Dimas Jayasrana, penilaian untuk film dokumenter dan fiksi diutamakan pada isu lingkungan. Bisa dikemas melalui sudut politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Film yang masuk final akan ditayangkan selama festival berlangsung.
Penilaian terhadap film-film tersebut dilakukan dengan tidak meninggalkan ide cerita, sudut pandang artistik, nilai, dan norma sinematografi. Dalam proses penjurian StoS sikap dasar menjadi titik penekanan penilaian, yakni film-film pilihan mampu dicerna secara logika. Logika para juri dan masyarakat luas. Penonton sengaja diikutsertakan sebagai penilai untuk mengetahui antusiasme dan pemahaman isi film ditayangkan.
Daftar film yang dinyatakan lolos seleksi final adalah sebagai berikut: untuk kategori film pendek fiksi (Kado Suketi, Kalung Sepatu, Sarung, Layar Kacau, Boim, Jakarta 2012, Gamelan Noise). Kategori film pendek dokumenter yakni Sop Buntut, Rumah Multatuli, X (Kali), Dari Kolong Ibukota, Mata Buruh, Trima hidup Apa Adanya, Demi Goresan Kapur, Donor Asi, Kereta Cinta (The Cleaning Service), Buruh Tukang Becak, Presiden Republik Abu Abu, Surat Cinta Buat Sang Prada, Yang Tak Ingin Terbenam.
Festival film ke-4 ini digelar pertama kalinya pada 2006 oleh Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) Indonesia, dan Kelir Nusantara. Selanjutnya didukung organisasi pergerakan Indonesia lainnya, seperti Walhi, Sawit Watch, Kiara, CSF, ICW, dan lainnya.
Ide ini kemudian ditumbuhkan, bukan hanya untuk dijadikan acara hiburan semata. Tapi memberikan edukasi publik, memberi pencerahan terhadap cara pandang siapa saja yang ingin mengasah kepeduliannya terhadap Bumi.
Festival yang digelar setiap dua tahun sekali ini diselenggarakan untuk menjawab animo masyarakat yang cukup tinggi terhadap film-film dan kegiatan digelar. StoS Film Festival selalu mengusung film-film yang membungkus pesan. Pada awal kemunculannya mengedepankan isu ketimpangan antara negara-negara “Selatan” yang sering dieksploitasi negara-negara “Utara”.
Negara “Selatan” dan “Utara” adalah sebuah istilah untuk membedakan negara berkembang atau miskin dan negara maju. Utara yang dimaksud adalah negara-negara kaya anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi), yaitu negara-negara di Eropa Barat, Amerika Utara, di tambah dengan Jepang dan Australia.
Sementara Selatan adalah negara non-OECD, yang kemudian dikategorikan sebagai negara miskin dan berkembang. Negara Selatan adalah negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, dikenal sebagai negara kaya dengan keanekaragaman hayati, tapi sering tereksploitasi guna memenuhi konsumsi masyarakat di negara-negara Utara.
StoS Film Festival mencoba membuka ruang dialog untuk memfasilitasi pemahaman masyarakat perkotaan dan apa yang dialami oleh warga pedesaan pada kawasan-kawasan yang dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup warga kota.
Film festival ini mengklaim tidak membuat penontonnya merasa digurui, melainkan diingatkan bahwa apa yang dilakukan juga bisa berakibat pada kehidupan masyarakat lainnya di belahan daerah atau negara lainnya.
Inti keseluruhan dari setiap pesan StoS Film Festival adalah bagaimana membangun kepedulian dan solidaritas antara satu komunitas daerah dan negara lain, dengan komunitas di belahan daerah atau negara lainnya. Ada sisi pengetahuan dan pelajaran yang menginspirasi hidup dan menanamkan kepedulian terhadap sesama dan alam.
EVIETA FADJAR





