Tiga orang warga Suriah berbincang-bincang di depan kedutaan Suriah di Tripoli, Libya, (5/2). Tampak di belakang mereka tembok yang dipenuhi grafiti bertuliskan "Turunkan Bashar, Bebaskan Suriah." REUTERS/Ismail Zitouny
Topik
Infografis
Cina Bela Kebijakan Vetonya terhadap Suriah
TEMPO.CO, Beijing - Cina membela kebijakan vetonya terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 4 Februari silam. "Resolusi itu tidak efektif dan dapat memecah-belah Suriah," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lie Weimin, seperti dikutip laman Voanews.com, Selasa, 7 Februari 2012.
Keputusan itu, menurut Cina, bertujuan untuk menghindari lebih banyak korban. Lie menambahkan, sampai saat ini Cina terus mengamati dan menyerukan semua pihak di Suriah menghentikan kekerasan.
Dalam keterangannya, Lei tidak setuju dengan pernyataan Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, yang menyebut veto Cina merupakan parodi. "Cina berusaha untuk tidak mendukung pihak mana pun dalam konflik sipil. Kami melihat negara ini sebagai sebuah negara besar yang bertanggung jawab," Lie menjelaskan
Adanya tekanan dari pendukung terhadap Dewan Keamanan PBB, menurut Lie, tidak akan dapat membantu menciptakan persatuan dalam Dewan Keamanan PBB. Hal ini juga tidak dapat memecahkan masalah Suriah. "Tekanan pendukung tidak efektif ketika masih terdapat persepsi perbedaan yang serius," ujar Lie.
Sebanyak 13 negara, termasuk Inggris, Prancis, Amerika Serikat, memberikan suara mendukung resolusi terhadap Suriah, tapi tidak bagi Rusia dan Cina.
Sementara itu, Su Zhe, profesor studi internasional Universitas Tsinghua, percaya masih ada ruang untuk berdialog mengenai permasalahan di Suriah. "Jika situasi memburuk, Cina dan Rusia masih bisa mengubah posisinya."
Beijing, menurut Su, memiliki kekhawatiran terhadap intervensi yang dilakukan Barat. "Kami tidak ingin melihat lagi kasus yang terjadi di Libya dan Mesir," ujarnya
Rusia dan Cina, Sabtu 4 Februari 2012, bersatu dalam satu kekuatan untuk memveto draf resolusi yang diajukan oleh negara Arab dan Barat untuk mengubah rezim di Suriah. Draf ini menyerukan pengunduran diri Presiden Suriah Bashar al-Assad di tengah kekerasan yang memburuk di negara tersebut.
Ini untuk kedua kalinya Cina dan Rusia bersama-sama menggunakan hak veto untuk memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB sejak Oktober 2011 silam. Draf tersebut berisi isyarat sanksi bagi Suriah jika kerusuhan berdarah terus berlanjut.
Setelah memveto draf resolusi penyeruan pengunduran diri Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rusia dan Cina menerima banyak kecaman dunia internasional. Sampai saat ini jumlah korban tewas dalam tragedi krisis politik di Suriah sudah menembus 5.000 orang.
VOANEWS | ANANDA PUTRI





