Seorang pejalan kaki menyaksikan tampilan synchronized screen berukuran 30m x 50m di bangunan Hotel Sahid Surabaya, Kamis (5/1) malam. ANTARA/Eric Ireng
Topik
Sahid Jaya Cari Pinjaman Rp 600 Miliar
TEMPO.CO, Jakarta - PT Hotel Sahid Jaya International Tbk mencari pinjaman ke perbankan dan lembaga keuangan lainnya sebesar Rp 550-600 miliar. Keputusan ini diambil setelah pemegang saham menyetujui untuk menjaminkan lebih dari 50 persen aset yang dimiliki perusahaan di Rapat Umum Pemegang Saham pada hari ini.
Direktur Utama Sahid Jaya Hariyadi Sukamdani menjelaskan, nilai aset Sahid saat ini mencapai Rp 1,224 triliun. Artinya, Sahid punya peluang mencari pinjaman Rp 550-600 miliar.
Pinjaman itu, di tahap pertama dibutuhkan Rp 200 miliar. Karena secara bersamaan, emiten berkode efek SHID itu mendapat penawaran dari Bank Victoria dengan jumlah yang sama.
Dana sebesar Rp 200 miliar, menurutnya, akan digunakan untuk membayar utang kepada Bank Mega sebesar Rp 120 miliar. Pinjaman Bank Mega pada 2008 lalu digunakan untuk merenovasi kamar hotel sebanyak 450 unit. Dana sebesar Rp 60 miliar untuk renovasi kamar sebanyak 271 unit.
Perusahaan berencana kembali melakukan pinjaman untuk membayar utang ke Bank Mega atau refinancing utang karena untuk mendapatkan efisiensi beban bunga. "Bunga utang Bank Mega tinggi sekali, berkisar 16 persen," kata Hariyadi
Untuk itu, Sahid menargetkan mendapatkan pendanaan dengan bunga sesuai pasar yaitu 10 persen. Sehingga dapat melakukan penghematan signifikan karena ada selisih sampai 6 persen.
Sementara itu, Bank Victoria menawarkan bunga utang sebesar 13 persen. Menurut Hariyadi, perusahaan akan kembali melakukan penawaran kepada Victoria agar bunga utangnya menurun. "Kami masih bargaining, karena mereka menawarkan sebelum kuasi reorganisasi. Sehingga mereka mungkin saat itu ada perhitungan risiko," katanya.
Saat ini, perusahaan mengoperasikan 450 kamar dari total kamar sebanyak 721 unit. Sisanya sebanyak 271 kamar baru akan direnovasi. "Penambahan kamar ini akan mendongkrak 20 persen pendapatan perusahaan," kata dia.
Kebutuhan Rp 200 miliar bisa jadi ada kebutuhan lain selain untuk merenovasi kamar hotel, seperti mengakuisisi lahan atau hotel. "Jika membutuhkan pendanaan lagi, kami tinggal mencari pihak eksternal tanpa melakukan RUPS karena pemegang saham telah menyetujui penjaminan sekitar separuh nilai aset," kata dia.
SUTJI DECILYA





