foto

TEMPO/Dasril Roszandi

Incar Century, Kantor Yawadwipa Tanpa Papan Nama

TEMPO.CO, Jakarta - Dua hari silam, sebuah siaran pers menggegerkan sampai ke meja redaksi Tempo. Perusahaan investasi bernama Yawadwipa Companies menyatakan minatnya membeli PT Bank Mutiara Tbk, yang dulu bernama Bank Century.

Tidak tanggung-tanggung, perusahaan yang beralamat di Jakarta dan Singapura ini bersedia mempertimbangkan harga yang ditawarkan Lembaga Penjamin Simpanan sebesar Rp 6,7 triliun atau setara dengan jumlah dana talangan yang dikucurkan.

Siaran pers Yawadwipa yang berbahasa Inggris sepanjang dua halaman juga mencantumkan alamat perusahaan di gedung Bursa Efek Indonesia, Menara 2, lantai 17, CEO Suite 1701, Jakarta. Alamat kedua ada di Singapore Land Tower, lantai 37, Singapura.

Rasa ingin tahu membawa Tempo kemarin siang, Selasa, 7 Februari 2012, menyambangi kantor Yawadwipa di gedung Bursa Efek di kawasan Jalan Sudirman. Namun, sesampainya di lokasi, Tempo tidak menemukan barang secuil pun tanda-tanda ada perusahaan Yawadwipa di sana.

Penasaran dengan identitas Yawadwipa, Tempo berusaha mencari-cari papan nama perusahaan yang biasa tertempel di dekat lift atau lobi. Hasilnya kembali nihil. Tidak ada papan nama yang menunjukkan identitas perusahaan.

Untungnya, dua petugas resepsionis perempuan yang menunggu di depan Suite membenarkan Yawadwipa berkantor di situ. Tapi sayang, Tempo tidak berhasil menemui dua pemimpin utama perusahaan, yakni Christoper Holm sebagai chief executive officer (CEO) maupun Prasetyo Singgih sebagai co-CEO.

"Yang berkantor di sini hanya Pak Prasetyo," ujar seorang resepsionis yang mengenakan setelan blazer hitam. Ia enggan merinci pada pukul berapa Prasetyo kembali ke kantor. "Silakan tinggalkan kartu nama Anda," ujar dia lagi. Selain kedua orang tadi, selebihnya kantor yang menempati setengah dari luas lantai 17 itu sepi belaka.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kantor Panin Securites yang terletak persis di depan kantor Yawadwipa. Interior kantor lumayan nyaman dengan satu set sofa kulit lengkap. Warna cokelat dan hitam mendominasi keseluruhan interior.

Saat Tempo hendak berlalu, tampak sejumlah pria berwajah oriental mondar-mandir ke dalam sejumlah kamar berpintu kayu yang selalu tertutup. Ditanya lebih jauh, kedua resepsionis menolak mengomentari siaran pers yang dikeluarkan Yawadwipa. "Saya tidak pada kapasitas untuk menjawab."

Dari penelusuran menggunakan mesin pencari Google, Tempo menemukan pengelola CEO Suite adalah sebuah perusahaan dengan nama yang sama, yakni CEO Suite Business Center & Serviced Office Jakarta.

Bisnis CEO Suite adalah jasa penyewaan kantor instan (instant office) dan kantor maya (virtual office). Menariknya, CEO Suite juga mempunyai lokasi kantor serupa di beberapa kota di Asia, salah satunya di Singapore Land Tower, lantai 37, yang tak lain adalah lokasi kantor Yawadwipa di Singapura. Apakah perusahaan sekelas Yawadwipa, yang mengelola dana lebih dari Rp 6 triliun, benar hanya memiliki kantor maya? Tunggu penelusuran Tempo selanjutnya.

SUBKHAN | EFRI