foto

Foto yang dirilis oleh kantor berita Suriah SANA, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, berbicara kepada para reporter setelah pertemuannya dengan Presiden Suriah Bashar Assad, di istana kepresidenan, di Damaskus, Suriah, Selasa (7/2). AP/SANA

Rusia Optimistis Suriah Mau Akhiri Kekerasan

TEMPO.CO, Damaskus - Rusia sangat yakin bahwa Suriah bersedia mengakhiri kekerasan di negerinya yang telah menelan ribuan nyawa.

Keyakinan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, usai mengadakan pembicaraan bilateral dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus, Selasa, 7 Februari 2012 waktu setempat.

Kendati demikian, upaya Rusia untuk menyakinkan dunia internasional atas berbagai peristiwa berdarah di Suriah tak berhasil. Sejumlah negara Teluk bergabung bersama Prancis dan Italia menarik pulang para duta besarnya dari Damaskus.

Gerakan penarikan perwakilan diplomatik itu diikuti pula oleh Amerika Serikat, Belgia, dan Inggris yang meminta duta besarnya pulang Senin, 6 Februari 2012 waktu setempat.

Sementara itu, kekerasan berdarah masih berlangsung di pusat Kota Homs. Militer Suriah terus menembaki para perusuh. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah saksi mata mengatakan kepada wartawan bahwa sejumlah tank dan penembak jitu mulai melancarkan tembakan ke arah kerumunan warga. "Ini merupakan kejadian di hari kelima," ujar mereka.

Akibat penembakan brutal tersebut, jelas pengunjuk rasa, lusinan orang tewas. Menurut kelompok oposisi, sedikitnya 6.000 orang meninggal sejak gerakan anti-Assad muncul 11 bulan lalu.

Kunjungan Lavrov ke Damaskus berlangsung tiga setelah Rusia dan Cina memveto keputusan Dewan Keamanan PBB yang mendukung tuntutan kelompok oposisi agar Assad mundur dari jabatannya.

Lavvrov mengatakan, setelah mengadakan pertemuan dengan Assad hasilnya "sangat berguna". Menurutnya, Assad sangat komit untuk mengakhiri kekerasan berdarah di sana. "Perlu kami (Rusia) tegaskan bahwa kami telah menemukan solusi yang sangat cepat atas berbagai rencana yang akan segera disampaikan kepada Liga Arab," kata Lavrov.

AL JAZEERA | CHOIRUL