TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Infografis
Pasar Kembali Respons Negatif Penurunan BI Rate
TEMPO.CO, Jakarta - Pasar kembali merespons negatif penurunan suku bunga acuan BI Rate 25 basis point (bps) menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Kamis kemarin. Ditambah lagi jatuhnya harga saham di bursa membuat rupiah sempat terpuruk hingga di atas level 9.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di pasar uang hari ini, Jumat, 10 Februari 2012, rupiah ditransaksikan ditutup melemah 29 poin (0,3 persen) ke level 8.985 per dolar AS. Kuatnya tekanan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) membuat rupiah sempat menyentuh level 9.050 per dolar AS di transaksi akhir pekan ini.
Kepala Riset Treasury Bank BNI, Nururl Eti Nurbaeti, menjelaskan pemangkasan suku bunga BI rate 25 bps kembali menekan rupiah. Sebab, secara teori, turunnya bunga suatu negara akan menurunkan nilai tukar mata uangnya, dan itu sangat wajar. Dengan turunnya suku bunga, imbal hasil, terutama di pasar obligasi, akan cenderung turun. Hal itu membuat investasi dalam mata uang rupiah menjadi kurang menarik. ”Ini yang membuat rupiah melemah,” tuturnya.
Harga saham yang turun cukup dalam imbas pelemahan saham perbankan juga turut menekan rupiah karena investor asing melepas sahamnya dan mengalihkannya ke dalam tunai (dolar AS). Melemahnya mata uang Asia lainnya juga turut membebani mata uang lokal.
Dari faktor eksternal, meski Yunani telah mencapai kesepakatan dengan para kreditornya, investor masih belum yakin negara tersebut akan segera mendapat kucuran dana talangan. Uni Eropa masih akan meminta persyaratan lainnya terhadap langkah penghematan dan harus mendapat persetujuan dari para politikus Yunani.
Dolar Singapura sore ini ditutup melemah 0,75 persen menjadi 1,2578 per dolar AS, won Korea Selatan terdepresiasi 0,71 persen ke posisi 1.123,72, peso Fiilipina turun 0,56 persen ke 42,425. Ringgit Malaysia melemah 0,77 persen menjadi 3,0317, serta Thailand juga turun 0,39 persen menjadi 30,86 per dolar AS.
VIVA B. KUSNANDAR





