ANTARA/Rosa Panggabean
Topik
Bi Rate Belum Selesai
TEMPO.CO, Jakarta - Langkah Bank Indonesia memangkas BI Rate menjadi 5,75 persen patut dihargai. Namun, perlu ada langkah yang lebih. “Suku bunga kita masih terlalu tinggi,” kata pengamat ekonomi Didik J. Rachbini, kepada Tempo, Sabtu 10 Februari 2012.
Menurut dia, suku bunga acuan di Indonesia masih 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari negara lain. Dia mengharapkan suku bunga acuan akan terus turun sampai ke titik yang ideal. “Bank Indonesia jangan berhenti sampai di sini,” katanya.
Memang, kata Didik, BI Rate bukan satu-satunya faktor yang mengendalikan iklim ekonomi. Tantangan yang lebih mendesak adalah bajir barang impor Cina yang mengancam pasar dalam negeri. “Banyak pengusaha yang mengeluh,” katanya. Barang-barang “buangan” dengan harga yang jauh lebih murah merusak pasar.
Wiwie Kurnia, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), mengatakan turunnya BI Rate merupakan sinyal yang baik. Namun, dampak pada dunia usaha tidak bisa langsung terasa. “Tergantung bank-bank, apakah mau menurunkan lending rate mereka,” katanya.
Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dari sebelumnya 6 persen. BI Rate yang sekarang tercatat paling rendah sepanjang sejarah suku bunga acuan.
GADI MAKITAN





