foto

TEMPO/Seto Wardhana

BP Migas Sarankan CNG Gantikan Bensin  

TEMPO.CO, Bandung - Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R Priyono menyarankan penggunaan gas untuk program konversi BBM memakai jenis Compressed Natural Gas (CNG). “Kalau pemerintah memutuskan CNG, itu akan jauh lebih mudah,” katanya, Jumat 10 Februari 2012.

Hingga kini pemerintah belum memutuskan untuk pilihan jenis gas yang akan di gunakan dalam program konversi BBM itu apakah CNG atau Liquid Vehicle Gas (LVG). Priyono condong menyarankan penggunaan CNG salah satunya karena lebih sederhana untuk publik.

Selain itu harga CNG sekitar US$ 7 per MMBTU lebih murah ketimbang LGV. Banyaknya kilang yang memproduksi CNG di sejumlah lokasi di Sumatera Selatan hingga Sumatera Utara dan Kalimantan juga mendorong produksi cukup besar.

Dalam pembicaraan dengan BP Migas, pemerintah menginginkan pasokan gas untuk konversi BBM di Pulau Jawa berkisar antara 53 MMBTU hingga 58 MMBTU. “Dan itu sudah ada, kalau (pilihannya) CNG,” katanya.

Untuk program konversi BBM itu, Priyono memastikan bahwa pasokan gas tersedia. Hanya kendalanya soal infrastruktur untuk pendistribusiannya yang harus dipersiapkan pemerintah.

Sebelumnya, pada Januari lalu, Menteri BUMN Dahlan Iskan sempat menyinggung soal jenis gas yang akan dipilih dalam program konversi itu. Saat mengunjungi PT Dirgantara Indonesia membicarakan soal converter-kit, Dahlan menuturkan, pilihan jenis gas itu akan berimbas pada rancangan converter yang akan digunakan, yakni pada rancangan tangki dan alat konversi yang dipakai.

Adapun produksi minyak dan gas bumi tahun ini diperkirakan bisa menembus 2,5 juta barel per hari hingga 2,6 juta barel minyak ekuivalen per hari. Gas menyumbang dalam porsi besar untuk mendongkrak produksi itu, sementara produksi minyak bumi diperkirakan hanya 950 ribu barel per hari.

Khusus produksi gas, Priyono meyakini jumlahnya akan meningkat tajam mulai tahun ini. Penambahan porsi itu disumbangkan oleh penambahan produksi sejumlah sumur gas yang berada di Kalimantan Timur, Sumatera, dan Papua.



 




AHMAD FIKRI