TEMPO/Kink Kusuma Rein
Topik
Kredit Rumah Bersubsidi Rawan Penyelewengan
TEMPO.CO, Jakarta-Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dinilai rawan penyelewengan. Banyak subsidi perumahan yang tidak tepat sasaran. Pengamat Ekonomi Aviliani menilai banyak sekali kredit perumahan bersubsidi yang beralih di tahun pertama cicilan. “Mereka menangguk untung dari proses pengalihan kredit itu,” kata Aviliani saat dihubungi oleh Tempo, Jumat 10 Januari 2012. Ia menambahkan, harga properti yang cenderung naik setiap tahunnya mempengaruhi maraknya fenomena ini.
Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Djan Fariz mengajukan rencana suku bunga FLPP senilai 70 persen dengan skema pembiayaan 50:50 untuk pemerintah dan bank. Terkait dengan kebijakan pemerintah tersebut, Aviliani berpendapat, bank akan mengikuti kebijakan tersebut. Tapi, Ia mengingatkan besaran kredit bermasalah dari FLPP cukup tinggi.
Aviliani menuturkan meski selama ini Bank Tabungan Negara (BTN) mendominasi pembiayaan perumahan, margin yang diperoleh masih kecil. Maka, Ia mengusulkan agar BTN tidak mendominasi penyaluran FLPP sendirian. Selama ini, BTN mendominasi porsi FLPP dengan tingkat penyaluran mencapai lebih dari 90 persen.
“Seharusnya bisa dibagi porsinya kepada bank-bank lain.” Dengan dibaginya porsi penyaluran FLPP, BTN tidak menanggung kerugian akibat rendahnya margin sendirian.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar skema FLPP diubah. “Lebih baik pemerintah membangun rusun di daerah industri.” Ia mengusulkan skema sewa dibawah pengelolaan pemerintah daerah.
SUBKHAN





