Sejumlah pengunjung saat memilih display pernak pernik aksesoris dikawasan Mall Senayan City, Jakarta, Kamis (9/2). Dalam menyambut hari raya kasih sayang, banyak pusat perbelanjaan yang mendisplay daganganya dengan konsep "Love". Tempo/Aditia Noviansyah
Topik
Infografis
Foto Terkait
Bila Cinta Itu Pergi
TEMPO.CO, Jakarta - Cinta pertama itu rasanya indah. Apalagi kalau tiba-tiba bertemu orang yang disuka. Jantung mendadak berdegap kencang, sepertinya bibir ingin selalu tersenyum. Itulah perasaan Bila (Shalvynne) waktu bertemu Dani (Stefan William), teman sekolahnya. Tapi tak hanya Bila seorang yang menyukai Dani. Sang sahabat, Shosana (Karina Meita Permatasari), juga menyukai lelaki putih kurus itu. Bahkan keduanya bersaing meraih perhatian Dani.
Meski memenangkan hati Dani dari Shosana, Bila tak bisa memiliki kekasih hatinya secara utuh. Takut masa depan Bila rusak, sang ibu melarang Dani mendekati putrinya. Tanpa mengetahui penyebabnya, Bila kehilangan cinta pertama. Dani pergi dan tak pernah berkabar lagi. Itulah cuplikan film Bila garapan sutradara Chiska Doppert alias Yato Fio Nuala, Nayato Fio Nuala, Koya Pagayo, Ian Jacobs, dan Pingkan Utari.
Film itu dirilis 9 Februari 2012. Doppert terkesan menekan biaya pembuatan film dengan meminimalisasi lokasi syuting. Sutradara film Hantu Jeruk Purut itu lebih banyak menggunakan setting dalam ruangan, seperti sekolah, rumah, dan butik. Adegan luar ruangan paling hanya di tiga lokasi, yakni Pulau Onrust, Kepulauan Seribu; kawasan Kota Tua, Jakarta Barat; dan sebuah taman. Selain adegan di tiga lokasi itu, Doppert lebih memilih meng-close up wajah pemain untuk menutupi latar belakang lokasi.
Film yang diangkat dari naskah ciptaan Cassandra Massardi ini semestinya cukup menarik. Penonton diajak ikut terbawa kepedihan Bila waktu harus kehilangan cinta pertamanya hingga tiga kali. Sayangnya, Bila hanya menampilkan unsur yang biasa dipakai dalam sinetron.
Unsur sinetron yang dimaksud adalah adegan berbicara sendiri dalam hati, terlalu banyak penggunaan musik, dan gambar close-up wajah pemain. Untung saja gambar close-up itu tidak dilakukan berkali-kali dengan pengiringan musik kala si tokoh kaget atau marah.
Secara jalan cerita, Doppert terlihat tergopoh-gopoh merangkum kehidupan Bila dalam waktu 84 menit. Terlalu banyak adegan meloncat yang kurang jelas dan penuh dengan kebetulan. Contohnya adegan waktu Bila dan Dani memutuskan menginap di hotel dan seorang laki-laki memergoki keduanya. Tapi, hingga akhir film, tidak terjelaskan siapa pria tersebut.
Kebiasaan Doppert memasukkan hal esek-esek dalam produksi film hantunya masih dibawa ke film bergenre remaja ini. Seperti obrolan Bila dan Shosana yang mengarah ke pembahasan seks. Tanpa adegan itu, sebetulnya film masih bisa berjalan cukup bagus.
Ada hal lain yang disayangkan dari film Bila. Tim artistik kurang ahli kala menyulap penampilan para pemain, terutama Dani. Make up artis terlihat gagal mengubah Dani remaja menjadi sosok lebih dewasa. Waktu memasuki dunia kerja, Dani masih tampil layaknya anak SMA. Meski tim artistik berusaha menambah kacamata dan jas, hal itu kurang mampu menunjukkan Dani dewasa. Apalagi akting Stefan terlihat kurang bisa menjiwai karakter Dani.
Bagi penikmat film, Bila memang punya banyak kekurangan di sana-sini. Tapi, bagi Anda yang ingin merayakan Hari Kasih Sayang, tak salah menonton Bila. Toh, secara garis besar, inti ceritanya cukup menarik dan orisinal. Andai Bila digarap lebih baik lagi, mungkin film ini bisa disejajarkan dengan Ada Apa dengan Cinta.
CORNILA DESYANA





