foto

Film Kebun Binatang. Berlinale.de

Pesta Kecil Indonesia di Festival Film Berlin  

TEMPO.CO, Berlin - Gelombang hawa dingin menerjang Eropa sejak pekan lalu, yang menewaskan ratusan orang di seantero benua. Udara di bawah titik beku. Tetapi, para bintang di pembukaan ke Berlinale, festival film internasonal Berlin, tak perlu kuatir akan mengigil kedinginan dalam balutan gaun mewah mereka. Jalur karpet merah di Berlinale Palast, gedung utama festival, dilengkapi penghangat, lampu-lampu halogen berdaya tinggi, dan tentu saja kerumunan orang.



 



Kaum cantik tampan dunia yang hadir di pembukaan festival pada Kamis malam, 9 Februari 2012, memang tidak sespektakuler para tamu di acara Academy Awards atau Festival Film Cannes. Tetapi, beberapa tamu itu adalah para bintang dunia, seperti Diane Kruger, Charlotte Gainsbourg, Jake Gylenhaal, dan bahkan aktor gaek yang kita kenal dalam peran-perannya sebagai Count Dracula, Christopher Lee.



 



Para bintang itu bersama sekitar 1.500 undangan khusus, yang juga disaput harum parfum dan busana mewah karya para perancang dunia, menikmati film pembuka, Les adieux a la Reine (Salam Perpisahan bagi Sang Ratu) karya sutradara Prancis, Benoit Jaquot.



 



Berlinale ke-62 ini akan berlangsung 10 hari dan menampilkan sekitar 400 film di berbagai kategori. Malam penutupan sekaligus penganugerahan hadiah bagi pemenang akan berlangsung pada 19 Februari 2012.



 



Para selebritas akan hilir mudik di festival ini. Mereka mewakili film-film mereka dari berbagai kategori resmi, khususnya kategori kompetisi, pemutaran khusus nonkompetisi, dan panorama atau untuk pemutaran khusus bagi "pasar" dunia: distributor, pembeli, pengedar film dari berbagai penjuru.



 



Tapi, festival kali ini juga penting bagi Indonesia. Tahun ini untuk pertama kalinya film Indonesia masuk dalam kategori kompetisi di satu dari empat festival terbesar dunia, selain Academy Award, Cannes, dan Venesia. Film yang mencatat sejarah itu adalah Kebun Binatang karya sutradara Edwin, yang nanti akan turut memperebutkan Beruang Emas, penghargaan tertinggi Berlinale.



 



Kebun Binatang dibintangi Ladya Cheryl dan Nicholas Saputra dan ditampilkan di Berlinale dalam judul bahasa Inggris Postcards from the Zoo. Ceritanya bertumpu pada sosok Lana, seorang gadis yang tumbuh di sebuah kebun binatang. Dulu ayahnya meyerahkan Lana kecil untuk dibesarkan oleh seorang pawang binatang di Ragunan. Edwin selama ini dikenal sebagai sutradara dengan kecenderungan eksperimental lewat sejumlah filmnya, seperti Babi Buta, yang mendapat banyak pujian.



 



Di kategori kompetisi ini Kebun Binatang akan bertarung dengan 17 film lain karya sejumlah nama besar dan mapan, yakni A Moi Seule (Frederic Videau, Prancis), Aujord’hui (Hariini, Alain Gomis, Prancis), Bai Lu Yuan (Wang Quan’an, Cina), Barbara (Christian Petzold, Jerman), Captive (Tertangkap, Brillante Mendoza, Filipina), Cesare Deve Morire (Csare Harus Mati, Paolo Tivali Vittorio Tivani, Italia), Csak a Szel (Hanya Angin, Bence Fliegauf, Hungaria), Dictado (Permainan, Antonio Chavarrias, Spanyol), En Kongelig Affare (Kaum Ningrat, Nikolaj Arcel, Denmark), Gnade (Belas Kasih, Mathias Glasner, Jerman-Norwegia), Jayne Mansfield’s Car (Mobil Jayne Mansfield, Billy Bob Thornton, AS), L’enfant d’en Haut (Ursula Meier, Prancis), Meteora (Spiros Stathoulopoulos, Yunani), Rebelle (Kim Nguyen, Prancis), Tabu (Miguel Gomes, Portugal), Was Bleibt (Yang Tertinggal, Hans Cristian Schmidt, Jerman).



 



Dewan juri kategori utama ini diketuai sutradara terkemuka Inggris, Mike Leigh. Anggotanya sutradara eksperimental Prancis, Francois Ozon; aktris Jerman, Barbara Skowa; aktor Holywood, Jake Gyllenhaal; aktris Prancis, Acharlotte Gainsbourg; penulis skenario Aljazair, Boualem Sansal; sutradara Iran pemenang Beruang emas tahun lalu, Asghar Farhadi; dan fotografer-pembuat film Belanda, Anton Corbijn.



 



Edwin dan Kebun Binantang tidak sendirian di Berlinale. Sejumlah sineas Indonesia lain juga tampil, yakni Kamila Andini dengan karyanya, Mirror Never Lies, yang tampil dalam kategori Generasi dan 7 Deadly Kiss, sebuah film pendek berdurasi 4 menit karya Samaria Simanjuntak di kategori Panorama. Di kategori Panorama Dokumenter tampil pula sejumlah sutradara Indonesia yang berkaya bersama dua sutradara Jerman dalam produksi bersama Indonesia-Jerman. Judulnya Anak-anak Srikandi, sebuah kumpulan film pendek ihwal lesbian di Indonesia. Para sutradara Indonesia yang berkarya di sini adalah Yulia Dwi Andriyanti, Hera Danish, Eggie Dian, Stea Lim, Afank Mariani, Imelda Taurinamandala, Oji, dan Winnie Wibowo.



 



Selain itu hadir pula produser dan penggiat film John Badalu, yang ditunjuk Berlinale sebagai "delegasi" untuk Asia Tenggara; pembuat film dokumenter Aryo Danusiri, yang mendapat forum khusus; dan editor-sutradara Ismail Basbeth di Talent Campus. Jadi, kehadiran Indonesia di Berlinale kali ini tidaklah sekadar numpang lewat. Tak berlebihan kalau Berlinale ini tampak sebagai semacam pesta kecil perfilman Indonesia.



 



Sejumlah nama besar dunia tampil di kategori nonkompetisi atau pemutaran khusus, seperti Stephen Daldry dengan Extremely Loud and Incredibly Close, Tsui Hark dengan Flying Swords of Dragon Gate, Zhang Yimou dengan Jin Li Shi San Chai (Bunga-bunga Perang), dan Steven Sonderbergh dengan Haywire.



 



Fetival ini juga memberi perhatian khusus pada Musim Semi Arab, gerakan prodemokrasi di berbagai negara Arab, dengan menampilkan film-film ihwal Arab atau karya para sutradara Arab.



 



Tentu saja masih banyak kategori lain, seperti Restropektif, Berlinale Special, Perspektif, Deutsches Kino (khusus film-film Jerman), atau Film Kuliner. Ada pula penganugrahan Beruang Emas Kehormatan untuk aktris Meryl Streep, yang dilengkapi pemutaran khusus filmnya yang paling mutakhir, The Iron Lady.



 



GING GINANJAR (BERLIN)