Petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menyusun bungkusan shabu saat gelar barang bukti di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/2). TEMPO/Tony Hartawan
Topik
Polisi Tak Merasa Kecolongan Sabu di Acara SBY
TEMPO.CO, Jambi - Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jambi, Komisaris Besar Polisi Almansyah, mengatakan aparat kepolisian tidak merasa kecolongan akibat penangkapan Sabda Janata bin Jefri Hanter, 26 tahun, yang kedapatan membawa sabu-sabu saat menghadiri acara kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Desa Pudak, Kecamatan Kumpehulu, Kabupaten Muarajambi.
Menurut Almansyah, polisi justru merasa penangkapan itu sebagai kesuksesan polisi. "Kami sama sekali tidak merasa kecolongan, bahkan penangkapan itu membuktikan sebuah kesuksesan," kata Almansyah kepada Tempo, Jumat, 10 Februari 2012.
Almansyah mengatakan Sabda merupakan salah seorang pemilik kios penjualan ikan di pasar tradisional Angso Duo, Kota Jambi. Kedatangannya pun karena diundang panitia. Sabda dianggap salah seorang tokoh yang dinilai cukup penting untuk dihadirkan. “Dia biasa membeli hasil panen para petani ikan di kawasan Desa Pudak," ujarnya.
Dalam acara kunjungan Presiden ke kawasan Desa ekonomi terpadu minapoli tersebut dikerahkan 300 personel gabungan, yakni dari Polri, Pasukan Pengamanan Presiden, dan TNI.
Sabda ditangkap Pasukan Pengamanan Presiden. Saat diperiksa menggunakan alat detektor, pria ini tertangkap tangan membawa sabu.
Kepada Tempo, Kepala Kepolisian Resor Muarojambi, Ajun Komisaris Besar Badarurudin, sebelumnya mengatakan telah menahan tersangka Sabda, warga RT 10, Paal 8, Desa Pudak, Kecamatan Kumpehulu, Kabupaten Muarojambi. Polisi menyita barang bukti berupa enam paket kecil sabu. “Tersangka ditangkap sekitar pukul 08.00. Petugas menemukan enam paket kecil sabu dalam bungkus rokok milik tersangka,” kata Badarudin, Jumat, 10 Februari 2012.
Menurut Badarudin, tersangka mengaku bekerja sebagai penjual ikan di pasar tradisional Angso Duo, Kota Jambi. “Kami belum tahu dari mana tersangka mendapat barang haram. Kini dalam pengembangan petugas,” ujarnya.
Informasi yang diperoleh Tempo, masyarakat Desa Pudak mengakui tersangka merupakan warganya. Tapi, menurut warga, tersangka dalam beberapa hari ini bertugas menjadi penjaga kolam milik warga Desa Pudak yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Baru, lokasi tempat panen ikan patin yang dikunjungi Presiden SBY.
SYAIPUL BAKHORI





