foto

TEMPO/Iqbal Lubis

Asosiasi Risaukan Pengurangan Pintu Impor Buah

TEMPO.CO, Jakarta -Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) memprediksi penutupan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk impor buah dan sayuran berdampak negatif dalam 2-3 tahun ke depan. Pada masa satu tahun penerapannya, volume impor buah dan sayur akan menurun 60 persen namun pada tahun berikutnya justru volume semakin meningkat.

Ketua Umum Asibssindo Kafi Kurnia mengatakan, pada tahun kedua dan seterusnya, importir akan banyak menanamkan investasi baru di empat pintu masuk yang ditunjuk pemerintah. Hal ini, kata dia, justru akan membuat buah dan sayur impor membanjiri empat provinsi pintu masuk. "Tahun kedua dan ketiga sejak penerapan aturan ini tidak akan menguntungkan Indonesia. Harus ada pemikiran lebih lanjut supaya tidak membahayakan daerah pintu masuk," kata Kafi dalam pertemuannya dengan Kadin dan Kementerian Pertanian, di Menara Kadin, Jakarta, Jumat, 10 Februari 2012.

Dia menyebutkan, Produksi buah nasional banyak dihasilkan dari Jawa Timur atau mencapai 30 persen dari total produksi Indonesia. Jika Surabaya dibuka sebagai pintu masuk impor buah dan sayur, maka eksistensi buah lokal menjadi terancam.

Kementerian Pertanian memperketat pemasukan importasi buah dan sayur dengan mengeluarkan Permentan Nomor 89 tahun 2011 yang mengubah Permentan Nomor 37 tahun 2006. Isinya tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Buah-buahan dan atau Sayuran Segar ke Dalam Wilayah RI.

Tempat pemasukan buah dan sayuran segar yang awalnya melalui delapan lokasi menjadi empat lokasi. Empat pintu masuk itu yakni Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Belawan Medan, dan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Aturan Permentan ini berlaku efektif mulai 19 Maret 2012.

Menurut Kafi, importir buah dan sayuran segar dipastikan akan membuka investasi baru di pintu-pintu masuk yang ditunjuk. Disebutkannya, 1 gudang setidaknya memerlukan investasi Rp 25 miliar. Dan untuk membangun kesiapan infrastruktur pendukungnya dibutuhkan investasi Rp 300 miliar. Biaya investasi ini, kata Kafi, akan ikut mendorong kenaikan harga buah dan sayur impor.

"Kemungkinan minimal harga buah impor naik Rp 5.000 per kilogram," ungkapnya. Kenaikan harga ini juga memperhitungkan biaya distribusi dari pintu masuk ke daerah tujuan yang rata-rata Rp 10 juta per kontainer sekali jalan.

Importir, lanjutnya, juga khawatir pintu masuk yang telah ditunjuk belum siap beroperasi menampung volume importasi. Dalam sehari, rata-rata ada 150 kontainer buah dan sayur impor. Jika Tanjung Priok ditutup, maka Pelabuhan yang akan dilirik importir adalah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sebagai alternatif pengalihan. "Kami yakin jumlah truk di Surabaya masih sangat kurang untuk mengangkut buah dan sayur. Belum lagi potensi pemalakan di jalan dan macet di Pantura. Ini kan cost juga, minimal butuh 2 hari untuk distribusi dari Surabaya ke Jakarta," jelasnya.

Kafi menyebutkan, importir banyak mengimpor buah dari Cina diantaranya jeruk, apel, dan pir. Rata-rata biaya impor mencapai US$ 2.000-3.000 per kontainer. Konsumennya sekitar 50-60 persen dari jumlah impor berada di Jakarta dan sekitarnya. Sisanya, banyak dikirim ke Bandung, Yohyakarta, maupun Cirebon.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan, penetapan empat pintu masuk buah dan sayur impor bertujuan melindungi petani hortikultura nasional. Sebab, ada sekitar 8,5 juta petani hortikultura yang perlu dilindungi produksinya dari serbuan barang impor. Selain itu juga pembatasan pintu masuk untuk mencegah masuknya penyakit eksotik yang mengancam pertanian nasional.

"Tidak ada bangsa yang survive kalau pangannya tergantung pada negara lain. Tidak perlu takut juga akan kelangkaan buah, karena bisa dipenuhi dari buah lokal. Dan ini kesempatan untuk kampanyekan kita punya buah khas Indonesia," ujarnya dalam kesempatan sama.

ROSALINA