foto

Sejumlah pelajar korban kekerasan seksual melakukan dengar pendapat di ruang Komisi D, DPRD Kota Surabaya, Jumat, (10/2). TEMPO/Fully Syafi

DPR Dukung KPI Mengawasi Tayangan Televisi  

TEMPO.CO, Jakarta- Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Teguh Juwarno, mengatakan Komisi I DPR mendukung untuk mengubah paradigma bad news is good news. "Komisi I mendukung untuk menghilangkan paradigma bad news is good news dengan merevisi Undang-Undang (UU) Penyiaran," katanya pada diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, 11 Februari 2012.

Menurutnya, saat ini Komisi I tengah memberikan keleluasaan lebih kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menganalisis konten di televisi. Keleluasaan itu ada dalam beberapa pasal di Undang-Undang Penyiaran. Teguh tak menjelaskan pasal apa saja.

Ia mengatakan, saat ini masyarakat sering terjebak berita peristiwa kekerasan yang disiarkan televisi. Akhirnya masyarakat berpikir berita lebih banyak tentang kekerasan atau sesuatu yang negatif. Ia berharap pandangan masyarakat berubah.

Teguh menyarankan pers lebih menyiarkan dari sisi baik, dan tidak hanya melihat sisi berita buruk. Menurutnya, dengan masyarakat mengetahui kondisi korban, diharapkan masyarakat dapat belajar dari berita itu. "Masyarakat belajar agar tidak mengalami kondisi seperti (yang dialami) korban. Karena itu jangan melakukan kekerasan," katanya.

Anggota Dewan Pers, Wina Armada, mengatakan bahwa saat ini seharusnya masyarakat mengubah paradigma bad news is good news. Menurut dia, pada zaman ini paradigma tersebut sudah tidak berlaku. "Contohnya dalam hal berita sepak bola. Saat sepak bola menang kan semua media memberitakannya hingga detail," katanya.

Alasan lain bahwa paradigma itu tidak berlaku lagi adalah karena saat ini media yang sering memberitakan hal negatif justru bangkrut. Ia mengatakan salah satu tema pemberitaan yang negatif itu temanya adalah kekerasan, wanita, dan seks. Namun sekarang media yang mengedepankan hal itu mulai hilang. "Dulu, tiga resep itu adalah jurus jitu untuk menggaet pembaca, tapi sekarang justru hancur," ujarnya.

MITRA TARIGAN