Memacu Sapi Karapan Pakai Kantong Kresek | Travel | Tempo.co
TEMPO Travel
24 - 26 Mei 2012
Festival Musik Lintas Genre di Rumah Tembi
Festival digelar untuk pendokumentasian seri musik tradisi baru dalam bentuk album.

14 - 19 Mei 2012
Festival Teluk Jailolo 2012
Festival tahunan yang digelar di Teluk Jailolo Halmahera. Diisi mulai dari fun diving, parade rempah, hingga bakar ikan.

Di Indonesia, orang sangat peduli harga jual kembali mobil second. Saat membeli mobil baru pun, mayoritas pembeli sudah memikirkan harga jual kembali mobilnya. Nah ikuti tips berikut agar perawatan yang optimal dapat tercapai. 1. Gunakan pelindung cat. Sa

Memacu Sapi Karapan Pakai Kantong Kresek

Minggu, 12 Februari 2012 | 17:06 WIB

Seorang joki memacu sapi kerapan dengan tangan kosong, pada Eksebisi Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan dan Penyiksaan, di Stadion Soenarto Hadiwidjojo, Pamekasan, Madura, Jatim, Minggu (12/2). ANTARA/Saiful Bahri

TEMPO.CO, Pamekasan - Wajah Imam, 40 tahun, menyiratkan kekecewaan. Sepasang sapi karapan miliknya yang diberi nama Garuda Mas tidak berlari kencang sesuai harapannya dalam lomba karapan sapi di Stadion Soenarto Hadiwidjoyo, Minggu, 12 Februari 2012. “Sapi saya mestinya lebih cepat dari itu,” katanya kepada Tempo.

Menurut Imam, penyebab sapinya kurang kencang di arena karena diubahnya aturan main dalam karapan sapi. Saat ini, memacu sapi karapan agar berlari kencang tidak boleh lagi menggunakan pemukul berduri atau cambuk berpaku seperti biasanya.

Bahkan, sebelum beradu cepat di gelanggang, pemilik sapi melakukan semacam penyiksaan, seperti mengoleskan balsam atau spiritus pada anus sapi. Para joki juga diperkenankan memacu sapi tunggangannya dengan cambuk berduri hingga tubuh sapi luka berdarah-darah.

Lomba karapan pada Minggu, 12 Februari 2012, adalah untuk pertama kalinya segala macam peralatan keras dan kasar itu tidak boleh digunakan. “Sekarang hanya boleh pukul pakai kantong kresek,” ujar Imam dengan kecewa.

Dari pantauan Tempo, kantong plastik itu ditiup hingga menggelembung, lalu diikatkan pada ekor sapi. Sang joki karapan sapi hanya boleh mencambuk sapi karapan dengan ekor dan tas plastik tersebut. “Kalau boleh, aturan karapan sapi diubah seperti dahulu, boleh pakai cambuk paku,” ucap Imam memohon.

Lomba karapan sapi tanpa siksaan merupakan buah dari perjuangan MUI dan sejumlah ormas Islam di Kabupaten Pamekasan. Mereka telah lama mengutuk penyiksaan dalam karapan sapi. MUI Pamekasan meminta pemegang hak tunggal penyelenggara karapan sapi, yakni Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) Jawa Timur di Pamekasan agar melarang penyiksaan sapi.

Kepala Bakorwil Jawa Timur di Pamekasan, Eddy Santoso, kemudian menerima usulan MUI tersebut. “Tidak ada salahnya dicoba. Kami ingin mengakomodir semua aspirasi ulama dan masyarakat,” ucapnya.

Lomba sapi karapan di Pamekasan merupakan ajang tahunan untuk memperebutkan Piala Presiden. Seluruh sapi karapan dari seluruh daerah di Pulau Madura mengikuti lomba yang tergolong besar tersebut.

Salah seorang penonton asal Kabupaten Bangkalan, Mashudi, kagum menyaksikan lomba karapan sapi tanpa kekerasan. Menurut Mashudi, meski tidak menggunakan cambuk berpaku, lomba karapan sapi tetap menarik ditonton.

Mashudi mengatakan pelaksanaan lomba menjadi lebih alamiah. Tanpa adanya siksaan, justru bisa dijadikan tolak ukur sapi yang benar-benar kencang larinya di lapangan. “Kecepatan lari sapi murni karena kekuatan sapi, bukan karena disakiti,” ucapnya.

MUSTHOFA BISRI