Mimi Alford
Topik
Infografis
Foto Terkait
Pengakuan Remaja Simpanan JFK
TEMPO.CO, Washington - Mimi Alford menceritakan secara detail kisah cinta 18 bulannya dengan Presiden Amerika Serikat yang terbunuh, John F. Kennedy. Dalam buku Once Upon A Secret, ia menguliti setiap detail percakapan intim keduanya.
Saat menjalin percintaan, usianya masih 19 tahun. Ia tengah magang di bagian pers Gedung Putih.
Menurut dia, keintiman keduanya dimulai sejak hari keempat dia bekerja di Gedung Putih. Tepatnya setelah dia diajak menyelinap dari sebuah pesta di gedung yang sama dan dibawa ke kamar tidur Jacklyn Kennedy. "Dia mengambil keperawanan saya," akunya.
Satu yang dicatat Mimi, lelaki yang kerap disapa JFK ini tak pernah menciumnya. Ia juga mengaku sebagai pihak yang pasif dalam relasi seksual keduanya. "Saya tahu peran saya dan bermain dengan baik. Saya muda, penuh energi, dan bersedia untuk bermain bersama dengan apa pun yang ia inginkan," ujarnya.
Ia mengaku, salah satu yang disukainya dari JFK adalah senang bercanda. "Suatu hari, ia mengejutkan saya dengan bertanya apakah saya tahu lagu-lagu sekolah dari Miss Porter, sekolah berasrama eksklusif di mana istrinya juga bersekolah di sana," katanya. "Ketika saya mulai menyanyikannya, dia tertawa dengan sangat gembira."
JFK juga selalu memintanya untuk bepergian dengan dia--undangan yang biasanya disampaikan dengan kata sandi menanyakan apakah saya ingin pergi ke bioskop. Ia biasanya diterbangkan dengan pesawat cadangan, bersama dengan staf lain.
Pada perjalanan pertama--ke Taman Nasional Yosemite--ia mulai belajar tentang ''aturan main'' JFK. "Tetap di sana. Aku akan meneleponmu ketika Presiden inginkan kau," ujarnya menirukan asisten khusus JFK, Dave Powers.
Jadi itulah yang dia lakukan. Sepanjang hari dia hanya duduk di kursi dan menatap keluar dari jendela kamar hotel, menunggu panggilan.
Kisah cinta keduanya tetap berlanjut kendati dia sudah rampung magang. Saat itu, ia melanjutkan kuliah di Wheaton--sebuah perguruan tinggi khusus wanita di Massachusetts--untuk menyelesaikan tahun keduanya. "Ketika saya mengatakan kepada Presiden, dia berjanji untuk menelepon saya sesering mungkin, menggunakan nama samaran Michael Carter," katanya.
Hampir setiap hari, setelah di asrama, dia menerima telepon dari Michael Carter. "Apa program yang saya ambil? Apakah para gurunya baik? Apa yang saya baca? Apakah gadis-gadisnya menarik? Apa yang mereka bicarakan? Apa yang saya miliki untuk makan malam? Itu pertanyaan rutinnya," kata Mimi. "Kapan kau bisa datang ke Washington? Presiden pasti akan bertanya di akhir pembicaraan. Saya akan mengeluarkan kalender saya dan kami akan membuat kencan."
Dari sana, Dave Powers akan menangani semuanya: mobil untuk menjemputnya dari asrama, tiket pesawat, dan sebuah limusin hitam ke Gedung Putih. Pernah pada perjalanan kencan kedua ke Washington, pada bulan Oktober 1962, dia disambut dengan wajah tak bersemangat seperti biasanya. Rupanya, Krisis Kuba membuatnya tegang. Namun keduanya ''bertempur'' seperti biasa di tempat tidur.
Selama menjalin percintaan, Mimi mengaku pernah terlambat haid selama dua pekan. "Presiden tetap tenang walau terkejut. Saya tak tahu apa-apa tentang KB dan dia juga tidak pernah menggunakan pelindung saat berhubungan," katanya.
Dave menghubungkannya dengan seorang dokter di New Jersey untuk melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan, karena aborsi adalah ilegal. "Setelah itu, tak ada pembicaraan tentang apa yang saya inginkan, atau bagaimana saya merasa, atau apa risiko medis yang mungkin terjadi," katanya.
Di tengah percintaannya dengan JFK, dia berkenalan dengan Tony Fahnestock, seorang senior di Williams College di Massachusetts. "Aku bertemu seseorang," katanya kepada Presiden pada musim dingin tahun 1962. JFK hanya manggut-manggut. Ia tetap meminta Mimi datang seperti biasanya.
Tony tidak pernah curiga tentang kehidupannya yang lain di Washington. Seminggu sebelum Natal, Mimi bergabung dengan Presiden di Bahama, di mana ia bertemu Harold Macmillan, Perdana Menteri Inggris. "Saya ada di vila mewah sendiri dan Dave akan menjemput saya untuk Presiden di malam hari," katanya.
Percintaannya dengan JFK berakhir dengan tertembaknya sang Presiden. Sedianya, dia akan menyertai JFK ke sana, namun batal karena Jacklyn mendadak memutuskan ikut serta.
Buku Mimi kini laris manis. Tak hanya di Amerika, tapi juga di Eropa. Belum ada tanggapan dari lingkar dalam keluarga Kennedy atas isi buku ini.
TRI P BUDI





