TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo
Topik
Julian Kecewa Dituduh Rekayasa Acara Presiden
TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara kepresidenan, Julian Aldrian Pasha, kecewa dengan tuduhan beberapa pihak yang menyatakan silaturahmi kepala negara semalam adalah setting-an. Termasuk para komentator di televisi.
"Tidak benar kalau itu menyangkut substansi pertanyaannya. Tetapi, kalau itu ketertiban, ya tentu dong, kami kan bukan mengadakan dialog di warung kopi atau sejenis atau seperti itu," katanya di kantor kepresidenan, Selasa, 14 Februari 2012.
Julian menjelaskan pengaturan acara semalam hanya sebatas untuk kelancaran dan ketertiban acara. "Saya memang meminta kepada rekan-rekan agar menjadi lebih tertib, mengingat waktu yang terbatas dan banyaknya pertanyaan atau isu yang ingin disampaikan. Tentu membutuhkan manajemen waktu yang lebih baik dan perlu ada pengaturan," katanya.
Namun, katanya, segala substansi dan isi pertanyaan yang seolah direkayasa atau dititipkan atau dimintakan itu tidak benar. "Saya tidak mencampuri sama sekali. Itu murni datang dari para wartawan, apa yang menjadi perhatian publik, apa yang menjadi perhatian wartawan yang memang ingin ditanyakan langsung dan mendapat respons dari Presiden," ujarnya.
Dalam acara yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut, ada sekitar 16 wartawan yang diberi kesempatan bertanya. Pertanyaan bervariasi, mulai dari kasus Nazaruddin, dugaan keterlibatan kerabat Ibu Negara Ani Yudhoyono dalam kasus Bank Century, pembatasan BBM, GKI Yasmin, hingga masalah Front Pembela Islam (FPI).
Pertanyaan dari redaksi jurnalis cetak, online, radio, dan televisi memang sudah dikumpulkan selama beberapa hari sebelum acara. Namun itu dilakukan untuk pengelompokan tema demi efisiensi acara.
Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, menilai diskusi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sejumlah wartawan, semalam, di Istana Negara, belum menjawab pertanyaan rakyat. Pertanyaan wartawan sudah cukup tajam, tetapi jawaban belum memuaskan.
"Presiden memang telah bicara, tapi pertanyaan rakyat tidak terjawab. Seharusnya jawaban Presiden adalah dalam bentuk perubahan di lapangan," kata Ari lewat telepon, Selasa, 14 Februari 2012.
ARYANI KRISTANTI





