Yogyakarta Menuju Tujuan Terapi Spa   | Travel | Tempo.co
TEMPO Travel
24 - 26 Mei 2012
Festival Musik Lintas Genre di Rumah Tembi
Festival digelar untuk pendokumentasian seri musik tradisi baru dalam bentuk album.

14 - 19 Mei 2012
Festival Teluk Jailolo 2012
Festival tahunan yang digelar di Teluk Jailolo Halmahera. Diisi mulai dari fun diving, parade rempah, hingga bakar ikan.

Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga

Yogyakarta Menuju Tujuan Terapi Spa  

Kamis, 16 Februari 2012 | 14:19 WIB

mynewsletterbuilder.com

TEMPO.CO, Yogyakarta - Berbekal kode etik dan sertifikat, asosiasi terapis spa menepis pandangan miring kebanyakan orang terhadap profesinya. "Citra organisasi ditentukan oleh sikap dan perilaku anggotanya," kata Lastani Warih Wulandari, Ketua Asosiasi Spa Terapis Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, 16 Februari 2012.

Yogyakarta membutuhkan sumber daya manusia profesional, khususnya spa berciri khas heritage culture. Daerah Istimewa Yogyakarta memang mencanangkan diri sebagai kota tujuan wisata spa pada awal tahun ini. Sebanyak 160 dari 200-an terapis wilayah ini sudah melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Lebih dari 100 tempat menyediakan jasa spa. Akibatnya, persaingan bisnis relaksasi ini terjaga dan selalu berpacu meningkatkan mutu pelayanan.

Lastani mengatakan mata dunia baru menjadikan Bali sebagai primadona layanan spa di Indonesia. Padahal Yogyakarta memiliki banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan spa. Salah satunya rempah-rempah yang sangat berlimpah. Modal untuk menjadikan heritage culture bisa diperoleh dari budaya yang dikembangkan keraton. Misalnya, lulur dan berendam dengan rempah-rempah oleh para putrinya.

Spa bukanlah budaya barat. Budaya dan tradisinya sudah dilakukan oleh nenek moyang. Hanya namanya yang mengadopsi dari budaya barat.

Menurut M. Asyhadi, salah seorang Ketua Asosiasi Spa Terapis Indonesia, tradisi spa juga tergambar pada relief Candi Borobudur. Ini membuktikan spa bukanlah tradisi barat. Jika para pengusaha bisa menghadirkan layanan seperti para putri keraton, bisa menjadi ciri khas ala Yogyakarta.

"Kalau bisa mengangkat heritage culture dalam layanan spa, maka akan menjadi ciri khas layanan spa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Apalagi kalau spa yang dilakukan oleh para putri keraton bisa diangkat," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Tazbir Abdullah mengatakan adanya layanan spa bisa meningkatkan kunjungan wisatawan. Turis yang ingin bersantai bisa mendapat layanan menjaga kebugaran tubuh.

"Sementara ini Bali sebagai gudang spa, tetapi Yogyakarta tidak kalah potensi, baik rempah atau terapisnya. Maka kami berani mencanangkan Yogyakarta sebagai spa destination."

MUH SYAIFULLAH