Para penari dalam acara gladi resik tarian Ghost Track karya Andrea Leine (Belanda) dan Harijono Roebana (Indonesia) di Galery Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (7/2). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.20120208
Topik
Foto Terkait
Tari Tanpa Cerita Ala LeineRoebana
TEMPO.CO, Surakarta - Pada umumnya, sebuah karya tari membentuk sebuah cerita tertentu. Namun tidak untuk karya Ghost Track garapan Andrea Leine dan Harijono Roebana asal Belanda yang dipentaskan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kamis malam 16 Februari 2012. Potongan-potongan gerak yang disajikan oleh kelompok LeinaRoebana berdurasi sekitar 75 menit itu tidak bercerita apa pun.
Tari tersebut merupakan kolaborasi antara tarian Eropa dengan gerak kontemporer berbasis tarian Jawa. Beberapa penari asal Surakarta ikut masuk di dalamnya. Masing-masing tetap membawa karakter aslinya. Perbedaan tersebut justru menciptakan sebuah harmoni.
Panggung yang digunakan untuk mementaskan Ghost Track cukup sederhana. Sebuah latar berwarna cokelat terpasang di belakang, dan dapat berganti warna tergantung lampu yang disorotkan. Mereka juga meletakkan semacam undak-undakan dari bambu di atas panggung.
Peralatan musik berupa seperangkat gamelan diletakkan di salah satu sisi, menyatu dengan panggung. Penonton disuguhi musik gamelan yang dimainkan kelompok Kyai Fatahillah Gamelan Ensambel garapan Iwan Gunawan.
Sekelompok penari yang berasal dari dua tradisi berbeda itu saling bergantian mengisi panggung. Gerakan yang mereka lakukan secara umum sama, namun masing-masing memiliki karakter yang jauh berbeda.
Jika para penari asal Belanda memainkannya dengan lebih lentur, penari asal Indonesia membawakan dengan lebih tegas. Namun perbedaan karakter itu justru menciptakan sebuah harmoni.
Koreografer Harijono Roebana juga mengakui jika tidak ada satu pun cerita yang ingin dibawakan dalam gerak yang dibawakan oleh penari. “Ghost Track hanya ingin membahas pertentangan sederhana antara barat dan timur,” katanya. Jika dikelola dengan baik, perbedaan tersebut justru menciptakan sebuah komposisi yang indah.
Hal itu pula yang membuatnya sengaja menggandeng Iwan Gunawan sebagai piñata musik. Tidak hanya sekadar menggabungkan antara laras slendro dan pelog, Iwan juga dikenal piawai dalam memasukkan unsur bunyi yang bebas dan mengejutkan. “Apalagi dalam pementasan ini Leina Roebana banyak memberi kebebasan bagi saya untuk berekspresi,” kata Iwan.
Sajian menarik itu membuat para penonton nyaris tidak bergeser dari tempat duduknya. Garapan kolaborasi penari Indonesia dengan Belanda dalam Ghost Track itu memang sudah dipersiapkan cukup lama. Mereka memulai latihan kolaborasi sejak 2009 lalu melalui workshop, latihan serta pertunjukan. Mereka menggelar latihan di dua Negara, baik Indonesia maupun Belanda.
Ghost Track dipentaskan secara perdana pada November tahun lalu di Chasse Theatre of Breda. Selama dua bulan, Ghost Tract menjalani tur ke sejumlah kota di Belanda. Salihara menjadi tempat pementasan pertama kali di Indonesia pada 9 Februari kemarin.
LeineRoebana merupakan kelompok yang didirikan oleh Andrea Leine dan Harijono Roebana pada 1989 silam. Kelompok ini dikenal memiliki posisi yang cukup penting di jagad seni Belanda. Tahun lalu, kelompok ini pernah memukau warga Solo dalam penampilannya dalam Solo International Performing Art (SIPA) 2011.
AHMAD RAFIQ





