Wisatawan Penuhi Gunung Piramida Sadahurip   | Travel | Tempo.co
TEMPO Travel
24 - 26 Mei 2012
Festival Musik Lintas Genre di Rumah Tembi
Festival digelar untuk pendokumentasian seri musik tradisi baru dalam bentuk album.

14 - 19 Mei 2012
Festival Teluk Jailolo 2012
Festival tahunan yang digelar di Teluk Jailolo Halmahera. Diisi mulai dari fun diving, parade rempah, hingga bakar ikan.

Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga

Wisatawan Penuhi Gunung Piramida Sadahurip  

Jum''at, 17 Februari 2012 | 14:29 WIB

Gunung Sadahurip. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.CO, Garut - Kabar keberadaan piramida di balik Gunung Sadahurip yang berada di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, membuat kunjungan wisatawan ke daerah itu meningkat tajam.

Bila memasuki musim libur atau pada akhir pekan, kawasan ini disesaki pengunjung. Ratusan mobil dan sepeda motor pun terlihat memenuhi halaman rumah penduduk hingga meluber ke jalan desa yang hanya memiliki lebar sekitar 3 meter.

Tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, ada pula pungunjung yang datang dari keraton, seperti Keraton Yogyakarta, Surakarta, dan Solo. Mereka mengaku mendapatkan bisikan secara gaib untuk mengunjungi Gunung Sadahurip. “Jumlah yang datang setiap harinya bisa mencapai di atas 300 orang. Apalagi saat musim libur sekolah. Banyaknya minta ampun,” ujar Kepala Desa Sukahurip, Ayi Yana, kepada Tempo, Jumat, 17 Februari 2012.

Meski telah banyak wisatawan yang datang, pihak desa tidak memberlakukan tarif maupun retribusi seperti umumnya tempat wisata. Alasannya karena belum ada aturan yang mengikat. Pihak desa pun merasa malu bila harus memungut tarif kepada para pengunjung. “Enggak enak lah, masa harus ditarif. Jalannya juga belum bagus, terus lagi harus dimusyawarahkan dulu untuk membuat peraturan desa (Perdes),” ujar Ayi.

Banyaknya pengunjung ini juga dikeluhkan warga. Salah satunya adalah Cicih, 45 tahun. Menurut dia, banyak tanaman palawija warga yang mati karena terinjak pengunjung. “Ada tanaman warga yang terancam gagal panen karena banyak yang rusak terinjak pengunjung,” katanya.

Gunung yang memiliki luas 96 hektare ini merupakan tanah milik mayarakat dan tanah carik desa. Masyarakat menanami gunung ini dengan tumbuhan palawija dan sayuran, seperti kol, cabe, bawang, dan padi gogo.

Gunung ini berada di sebelah timur Kota Garut. Untuk mencapainya, pengunjung dapat mengambil arah ke kanan setelah alun-alun Kecamatan Wanaraja. Jaraknya sekitar 15 kilometer menuju ke lokasi. Jalan yang akan ditempuh berupa aspal yang sedikit berlubang dan jalan setengah aspal yang cukup sempit.

SIGIT ZULMUNIR