Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Batu menhir yang menancap di kawasan punden berundak Gunung Padang, Desa Karya Mukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (29/1). TEMPO/Prima Mulia
TEMPO.CO, Cianjur - Pengunjung Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dalam satu bulan terakhir mengalami peningkatan hingga 400 persen. Kondisi ini membuat petugas penjaga situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara itu kewalahan.
Sebelumnya pengunjung dalam satu bulan hanya sekitar 1.500 hingga 2.000 orang, tapi sekarang mencapai 8.000 pengunjung. Sebagian besar pengunjung dari dalam negeri, sedangkan wisatawan luar negeri sebanyak 200 pengunjung. Bahkan setiap Sabtu dan Minggu pengunjung bisa mencapai seribu orang dalam satu hari.
Menurut Rustandi, petugas Situs Gunung Padang, peningkatan jumlah pengunjung ini terjadi sejak maraknya pemberitahuan di media massa. Banyak warga yang penasaran dengan keberadaan situs Gunung Padang yang lebih tua usianya dibandingan piramida di Mesir. "Memang benar ada peningkatan, apalagi dari luar kota. Mungkin saja mereka pernah baca di surat kabar atau di televisi," kata Rustandi di Cianjur, Minggu 19 Februari 2012.
Diakui Rustandi, peningkatan pengunjung ini menjadi berkah bagi warga sekitar karena dapat meningkatkan pendapatan warga dari penjualan suvenir dan penyewaan tempat parkir. "Ada juga warga yang menyewakan rumah bagi pengunjung yang datang secara rombongan dan ingin beristirahat dengan tenang," ujarnya.
Namun, kata Rustandi, membludaknya pengunjung membuat petugas kewalahan. Sebanyak 10 petugas secara bergiliran harus memandu dan menjaga para pengunjung supaya tidak membuat situs rusak. "Meski jadwal kunjungan pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB, tetap saja ada yang datang di luar jadwal. Mereka tetap naik ke situs. Kami terpaksa harus tetap melayani karena khawatir ada kerusakan," kata dia.
Nanang, koordinator petugas penjaga Situs Gunung Padang, mengatakan ada 10 penjaga yang setiap hari mengawasi situs ini. Sebanyak 6 orang dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, 2 dari Jawa Barat, dan 2 dari dinas setempat. "Tujuh orang statusnya sudah pegawai tetap (PNS), sementara 3 lagi masih tenaga honorer," kata Nanang.
Selain wisatawan, pengunjung juga datang untuk berziarah, terutama mereka yang mencari pesugihan dan ingin naik pangkat. Mereka kebanyakan datang dari luar Cianjur. "Biasanya yang ziarah datang malam hari supaya suasana tenang," kata Nanang.
Direktur Lokatmala Insititute, Eko Wiwid, mengatakan pihaknya berharap peningkatan pengunjung ke situs Gunung Padang diikuti dengan pengetatan pengawasan. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menjaga konservasi di situs ini tetap terjaga. Eko mengaku khawatir dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan alam sekitar situs.
"Lingkungan situs kan bukan hanya batu-batu punden, tapi alam dan lingkungan sekitar. Jangan sampai peningkatan jumlah pengunjung malah merusak alam, seperti pohon dan kebun serta sungai. Kami melihat volume sampah pun meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung," kata Eko.
Agus Sugiarto, 40 tahun, pengunjung asal Kediri, Jawa Timur, mengaku datang jauh-jauh lantaran penasaran setelah mendengar informasi keberadaan situs ini. Ia datang bersama rombongan untuk berwisata sekaligus melakukan ritual agar mendapat berkah. "Pertama lihat, saya sangat takjub dengan situs ini. Begitu perawan dan sangat alami. Tidak seperti candi atau sejenisnya," kata Agus.
DEDEN ABDUL AZIZ

