Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Pasangan peserta Gunungan Charity Boat Race Festival mendayung perahu yang dibuat dari modofikasi kecak di Sungai Bengawan Solo, di Kampung Beton, Minggu (19/2). TEMPO/Andry Prasetyo
TEMPO.CO , Surakarta - Lazimnya becak berjalan di darat. Tapi pada Minggu, 19 Februari 2012, kendaraan tanpa mesin beroda tiga itu melaju di Sungai Bengawan Solo. Cara bergeraknya memang tidak seperti di film-film fiksi, melainkan dinaikkan ke sebuah rakit sederhana. Rakit ini terbuat dari tumpukan kayu panjang yang diberi tangki bekas di bawahnya.
Agar tidak jatuh ke sungai, becak itu diikat tali. Seperti halnya di darat, becak air juga memiliki pengemudi. Tak hanya satu, tapi tiga orang, yaitu James Broughton dan Tom Petty dari Inggris dan Johnny Sanchez dari Mexico. Satu orang berperan sebagai pengayuh becak, dan dua lainnya bertugas menjaga arah rakit. Lalu ada penumpang, Anne Wallace dari Kanada.
Adegan empat orang asing itu menarik perhatian warga sekitar. Mereka mau mangayuh becak dalam rangka berpartisipasi ajang Gunungan Charity Boat Race. Acara ini diselenggarakan Yayasan Gunungan, sebuah lembaga penampung anak yatim piatu.
Bukan hal mudah menjaga becak tetap stabil di atas air. Saat mendekati garis finis di bawah Jembatan Jurug, hampir sepertiga badan becak sudah terendam dalam air. James dan dua rekannya terus bersemangat mendayung, sementara Anne sudah turun demi mengurangi beban.
Begitu becak akhirnya merapat dan berhasil ditarik ke daratan, spontan James membuka topi capingnya dan berteriak, “Masih hidup”. Mereka gembira sukses melaksanakan tugasnya.
James, 28 tahun, mengatakan saat becak air diberangkatkan dari bawah Jembatan Mojo di Semanggi, kondisinya baik-baik saja. “Becak dan rakitnya mengapung meskipun dinaiki 4 orang,” katanya kepada Tempo.
Tapi dalam perjalanan sejauh 5 kilometer menuju Jurug, secara perlahan becak dan rakitnya mulai tenggelam. Dengan dibantu tim penyelamat, dia dan kawannya terus berjuang agar becak sampai di tujuan. “Dan untungnya kami berhasil,” ujarnya yang mengaku ikut acara karena menyenangkan dan sekaligus beramal.
Sementara Michael Mickleam, naik rakit dengan perangkat gamelan di atasnya. “Sebenarnya saya tidak bisa memainkannya. Tadi asal bunyi saja,” kata warga negara Australia ini sambil tertawa. Sosok yang juga ketua panitia ini memilih membawa rakit gamelan karena menyukai budaya Jawa.
Selain Michael, James, dan orang asing lainnya, warga sekitar Solo juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi. Seperti Bejo, yang menampilkan lesung air, dimana sebuah lesung sepanjang sekitar 2 meter dilengkapi dengan bambu panjang di depan dan belakang, yang menyatu dengan tangki bekas minyak pada kedua sisi lesung untuk menjaga keseimbangan agar tidak tenggelam. “Saya bikinnya cepat. Cuma sehari,” katanya.
Lalu, Kristanto dengan rakit yang di atasnya diletakkan dua kursi rotan dan sebuah meja. “Konsepnya sebuah tempat bagi pasangan yang ingin menikmati suasana romantis di atas air,” ujarnya. Agar rakit mengambang, dia memasang 8 tong air. Lantas ada pula rakit dengan kuda-kudaan di atasnya.
Dari total 30 peserta, tercatat ada 8 tim yang turun di nomor hiburan. Sedangkan untuk lomba kano ada 18 tim. Satu orang bisa ikut dalam dua kategori sekaligus. Michael mengatakan acara tersebut untuk mencari pendanaan untuk operasional Yayasan Gunungan.
UKKY PRIMARTANTYO

