indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Tito Kei: Polisi Ini Menembak John Kei

Tito Kei: Polisi Ini Menembak John Kei

John Kei menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta, Senin (20/2). FOTO ANTARA/Dokumentasi Keluarga

TEMPO.CO, Jakarta - Tito Refra, adik kandung John Kei, menuduh Kepala Satuan Reserse Mobil (Resmob) Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar (AKBP) Herry Heriawan yang menembak kakaknya.

Tito menyampaikan hal tersebut setelah membesuk John Kei yang sedang dirawat di Rumah Sakit Kepolisian RI Kramat Jati pada Minggu 19 Februari 2012.

"Saat bertemu dia (John Kei) hanya satu hal yang saya tanyakan. Apa yang terjadi saat penangkapan?" kata Tito di RS Polri Kramat Jati, Senin 20 Februari 2012. "Dia bilang ketika pintu kamarnya dibuka, polisi acungkan senjata. Dia angkat tangan kemudian ditembak," kata Tito.

Tito mengatakan John ingat siapa yang menembaknya itu. Menurut John yang menembak adalah AKBP Herry Heriawan.

Herry Heriawan sendiri membantah ia menembak John Kei. Ia mengatakan dirinya datang terlambat saat penangkapan. "Saya datang sudah bubar," ujarnya ketika dihubungi pada Sabtu 18 Februari 2012 dini hari lalu.

John Kei ditangkap di Hotel C’one, Pulomas, Jakarta Timur, pada Jumat 17 Februari 2012 malam. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan ada 75 reserse yang dikerahkan untuk menangkap John. Menurut Rikwanto jumlah polisi yang dikerahkan sepadan dengan tingkat ancaman. "Dia itu kan orang yang dituakan. Ke mana-mana pasti banyak loyalisnya yang ikut," katanya.

ANANDA BADUDU

Berita lain:
Massa John Kei Tekan Polisi

Berbagai 'Peluru' Polisi Jerat John Kei
Alasan Polisi Jerat John Kei Pasal Pembunuhan
Positif Nyabu, Alba Fuad Ditahan
John Kei Dijerat Pasal Pembunuhan dan Narkotik
Polisi: John Kei Bertemu Bos Sanex di Hotel
Gula Darah Turun, John Kei Masih Trauma
Wawancara John Kei: Saya Suka Kelahi, Bukan Preman

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X