foto

REUTERS/Cheryl Ravelo

Menyelamatkan Otot Panggul Ibu

TEMPO.CO, Jakarta - Rina Agustina tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Setelah enam tahun menunggu, pada awal Maret mendatang istri Reza Pahlevi ini akan melahirkan anak pertamanya. Perempuan 34 tahun ini ingin melahirkan secara normal, bukan dengan operasi caesar. Pertimbangannya, dengan melahirkan secara normal, pemulihan akan lebih cepat.

"Enggak kebayang sakitnya kalau operasi caesar," kata Rina kepada Tempo kemarin. Mengutip penjelasan Budi Iman Santoso, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, harapan Rina untuk melahirkan secara normal terbuka. Sebab, berat janin yang dikandungnya tak terlalu besar, yakni 2,6 kilogram.

"Itu bagus untuk lahir secara normal," kata Rina menirukan perkataan Budi. Namun, jika terpaksa harus melahirkan dengan operasi caesar, ia juga harus siap. Sebab, hasil pemeriksaan dengan ultrasonografi empat dimensi menunjukkan bahwa janin Rina terlilit tali pusar.

Melahirkan secara normal memang memberi sejumlah keuntungan. Salah satunya, seperti diungkap Rina, adalah pemulihan pasca-melahirkan yang lebih cepat. Namun, menurut Budi, melahirkan secara normal juga memiliki risiko, yakni memicu kemungkinan terjadinya kerusakan otot levator ani (otot di sekitar anus). Jika dibiarkan, kerusakan ini akan menimbulkan disfungsi dasar panggul.

"Menurut penelitian, prevalensi terjadinya kerusakan otot dasar panggul berkisar 15-30 persen pada wanita yang melahirkan secara normal," kata Budi, Selasa pekan lalu. Ia mengungkap hal itu dalam diskusi yang menandai beroperasinya Women''s Health Center di RSCM Kencana.

Kerusakan otot levator ini dapat menurunkan kualitas hidup wanita karena menyebabkan disfungsi seksual, inkontinensia urine (susah mengontrol pipis), inkontinensia alvi (feses mudah keluar), hingga penurunan organ panggul (prolaps) yang terkadang ditandai dengan keluarnya uterus alias rahim melalui liang vagina. Nah, lantaran takut terjadi kerusakan otot levator ani, banyak wanita memilih operasi caesar.

Padahal, menurut Budi, persalinan caesar tanpa indikasi medis hanya mampu melindungi satu dari tujuh ibu yang akan mengalami kerusakan otot levator ani akibat persalinan normal. Yang patut diwaspadai, ia menegaskan, "Risiko mortalitas (kematian) dan morbiditas (kesakitan) persalinan caesar meningkat lima kali dari persalinan normal."

Sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kerusakan otot dasar panggul, Budi menciptakan sistem indeks (scoring) yang bisa digunakan untuk memprediksi kemungkinan terjadinya kerusakan otot levator ani. Menurut dia, sistem yang dikembangkan dan validitasnya sudah diujikan pada 104 pasien di RSCM ini merupakan yang pertama kali di dunia.

Ada tiga variabel dalam skala scoring I yang dikenalkan Budi, yakni episiotomi (pengguntingan kulit dan otot di antara vagina dan anus), lamanya kala II (mengejan), dan berat bayi. Adapun skala scoring II, ada dua variabel, yakni robekan perineum (kulit di antara vagina dan anus) dan lamanya kala II.

Menurut skala I, episiotomi bernilai 1 dan tidak bernilai 0; lamanya kala II lebih dari 65 menit bernilai 2, kurang dari itu bernilai 0. Sedangkan berat bayi di atas 3,325 kilogram bernilai 1, dan di bawah itu bernilai 0. Hasilnya, skor total 0-1 masuk kategori rendah, skor 2 kategori sedang, dan skor 3-4 masuk kategori tinggi, menandakan ada kemungkinan terjadi kerusakan otot levator ani.

"Sistem ini bisa dimanfaatkan sejak ibu mengandung, misalnya dengan mengontrol agar berat janin tak terlalu besar," kata Budi.

Dalam kasus Rina, dengan berat janin 2,6 kilogram, skor 0 sudah terkumpul dari variabel berat bayi. Bila saatnya melahirkan tiba, dengan penjelasan yang sudah diberikan Budi, ia bisa meminta agar tak dilakukan episiotomi dan agar aktivitas mengejannya tidak dibiarkan berlangsung lebih dari 65 menit. Dengan skor minimal itulah Rina bisa terhindar dari rusaknya otot levator ani yang bisa memicu kerusakan otot dasar panggulnya. "Yang jelas, saya ingin mencoba melahirkan dengan cara normal," kata Rina.

DWI WIYANA