Berteman Angin dengan Windsurfing
Topik
Berteman Angin dengan Windsurfing
TEMPO.CO, Jakarta - Suara petugas penjaga pantai yang berulang-ulang terus mengingatkan pengunjung Pantai Mercure, Ancol, Jakarta Utara, agar menjauhi garis pantai dan tidak berenang terdengar lewat pengeras suara. Pasalnya, kecepatan angin pada akhir pekan lalu itu mencapai 16 knot (sekitar 29,63 kilometer per jam). Ombak setinggi 1–1,3 meter membentuk puncak-puncak ombak berwarna putih yang bergulung-gulung.
Para nelayan dan penyedia jasa wisata perahu telah melempar jangkar dan menambatkan perahu-perahu mereka. Ombak tinggi dan angin keras sangat berbahaya buat aktivitas melaut. Apalagi untuk berenang di Pantai Ancol yang memiliki kontur penuh batu karang.
Pada saat semua orang menjauhi garis pantai, empat pemain selancar angin (windsurfing) justru tampak bersukacita. “Ini saatnya main. Tadi dapat pesan pendek dari klub kalau angin lagi bagus, dan www.windguru.com juga sudah meramalkannya sejak seminggu lalu,” ujar Budi, salah seorang pemain itu.
Layar-layar dan papan selancar angin pun disiapkan. Budi, yang baru satu setengah tahun menggandrungi olahraga selancar angin, memilih menggunakan layar ukuran 5,7 meter dan papan kecil volume 132 liter, demi menyesuaikan dengan berat badannya yang 62 kilogram. Setelah peralatan siap, ia pun melaut menemui angin. Wuzzz..., dalam sekejap papan dan layarnya telah melaju 100 meter menjauhi garis pantai.
Sesampai di tengah laut, ia mengaitkan tali pengaman yang membalut badannya pada tali di layar. Ia pun memasukkan kakinya ke mast foot dan kemudian menarik tubuhnya merebah, serta bertumpu pada papan dan layar. Dengan kedua tangan memegang boom, ia mengatur posisi layar untuk menangkap laju angin dengan teknik downwind guna mendorong papan melaju cepat dan stabil.
Dia berganti-ganti teknik, kadang menangkap angin agar papan melaju cepat dan lurus, kadang ia untuk membuang angin di layar sehingga papan melaju lebih lambat untuk memudahkan membelokkan arah papan. Agak sial, tiba-tiba... crazz, byurrr, ia terjatuh dari papan. Secara tiba-tiba ada turbulensi angin yang membuat layar susah dikendalikan.
Namun, ia segera bangkit lagi, menarik layar yang jatuh dari atas papan, dan kemudian berlayar kembali. Begitulah. Siang itu ia bolak-balik mengelilingi laut Ancol berkali-kali. Sesekali ia beradu cepat dengan tiga teman mainnya, Somad, 36 tahun; Nanang, 32 tahun, dan Pak Christ, 60 tahun, bule asal Inggris yang sudah lebih dari 30 tahun kecanduan olahraga windsurfing dan beberapa tahun terakhir ini aktif bermain di Pantai Ancol.
Keempatnya adalah anggota klub layar dan windsurfing Neptunus Sailing School yang bermarkas di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara. Meskipun Jakarta mempunyai kawasan pantai yang ideal untuk bermain windsurfing, tidak banyak warga Jakarta yang menyukai olahraga ini.
“Kebanyakan orang takut kulit jadi hitam dan menganggap ini olahraga ekstrem,” ujar Somad, pelatih windsurfing di Klub Neptunus.
Olahraga ini aman dan cocok bagi semua umur, baik perempuan maupun laki-laki. Menurut statistik, rata-rata umur pemain windsurfing 15–70 tahun dengan median umur 45 tahun. Banyak yang memulai belajar pada umur sudah kepala empat atau lima, contohnya Budi. Saking kecanduannya, hampir setiap hari ia bermain di Ancol.
Agar aman ketika mulai belajar, pemain pemula dianjurkan selalu memakai pelampung sehingga aman dari risiko tenggelam. Kini teknologi karbon telah membuat alat-alat selancar angin lebih ringan dan praktis, cocok bagi perempuan. “Minimal bisa renang sudah cukup untuk memulai belajar windsurfing,” ujar Somad.
Selain Neptunus Sailing School, di Jakarta ada klub windsurfing Bahtera Jaya yang bermarkas di Gelanggang Remaja Bahtera Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Keduanya tidak hanya melayani windsurfing, tetapi juga olahraga layar lain seperti laser, hobbycat, optimist, keel boat, dan kayak.
Klub Bahtera Jaya, yang dikelola Pemerintah Daerah Ibu Kota Jakarta, lebih berkonsentrasi pada pembinaan atlet. Sedangkan Neptunus Sailing School, selain untuk pendidikan atlet muda, juga untuk klub hobi dan layanan wisata. Klub ini menyewakan berbagai peralatan windsurfing bertarif Rp 100–250 ribu per jam.
Seperti olahraga luar ruang lainnya, dalam selancar angin juga dikenal prinsip don’t do it alone, yang mewajibkan pemain tidak sendirian setiap kali turun ke laut. Kalau mau mengukir prestasi pun, kesempatan terbuka lebar. Oka Sulaksana, atlet asal Bali yang merajai olahraga ini sejak 22 tahun lalu, belum tergeser.
WAHYUANA





