Lubang Mbah Suro, Kota Sawahlunto, Sumbar. ANTARA/Iggoy el Fitra
TEMPO.CO -Bila mengunjungi Sawahlunto, jangan lupa menengok lubang tambang batubara pertama di Sawahlunto. Lubang tambang itu dibangun pada 1896 oleh orang rantai yang dipimpin seorang mandor bernama Suro. Terowongan bekas penambangan dipugar dan dijadikan museum tambang batu bara. Panjang terowongan ini ratusan meter, tapi baru 186 meter yang dipugar, dibersihkan, dan diberi blower udara untuk menambah udara.
Pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan merasakan suasana bekas lorong penambangan batu bara. Terowongan bekas lubang tambang ini amat nyaman, dan aman, karena ada udara yang dialirkan dari blower serta dilengkapi kamera pengintai (CCTV) yang dipantau petugas di gedung Info Box.
Lebar lubang tambang ini dua meter dengan ketinggian dua meter. Dulu lorong ini digunakan untuk mengangkut batu bara dari penambangan di bawah Kota Sawahlunto. Dinding lorong terlihat hitam berkilat karena masih mengandung batu bara kualitas super, yaitu 6.000 hingga 7.000 kalori. Sebelum 1930, Belanda menutup lubang ini karena dekatnya lubang tambang dengan Sungai Lunto, yang mengakibatkan derasnya rembesan air.
Jelajahi pula Museum Gudang Ransum. Di sana kita dapat menyaksikan suasana di zaman tambang dari ratusan foto hitam putih yang tergantung di dinding. Foto-foto lama yang menggambarkan suasana di zaman penambangan batu bara oleh Belanda, pekerja tambang, dan orang rantai. Gudang Ransum ini didirikan pada 1918 dan berfungsi sebagai dapur umum tempat memasak makanan serta memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang dan rumah sakit Sawahlunto, yang berjumlah ribuan orang. Bangunannya terdiri atas dapur umum, gudang es, gudang makanan mentah, gudang beras, menara asap, dan power strom.
Ada tiga bangunan besar, dua di antaranya berfungsi sebagai gudang ransum atau tempat makan ribuan kuli tambang, termasuk orang rantai. Para pekerja tambang ini berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Di museum ini terdapat beberapa batu nisan orang rantai yang hanya ditulisi angka.
Satu bangunan lain berfungsi sebagai dapur umum atau tempat memasak. Setiap hari pada masa itu dimasak 65 pikul beras atau hampir 4.000 kilogram beras. Sistem memasak juga dengan menggunakan tekanan uap yang dialirkan melalui pipa-pipa besar di bawah dapur. Peralatan masak yang digunakan terdiri dari paci berukuran besar.
Era kejayaan tambang batubara dan tragedi orang rantai di Sawahlunto terawat rapi oleh pemerintah kota Sawahlunto. Wali Kota Sawahlunto Amran Nur, dalam delapan tahun terakhir telah menyulap "rongsokan" bekas peninggalan kota tambang menjadi museum hidup untuk wisata sejarah.
Sawahlunto kini menjadi kota kecil yang nyaman untuk tempat wisatawan melihat jejak kota tambang batubara.Menurut Amran, Kota Sawahlunto sedang diusulkan menjadi kota warisan dunia ke Unesco.“Apalagi Sawahlunto juga sudah ditetapkan menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia,” kata Amran Nur.
FEBRIANTI