Petugas kecamatan mengecek kartu identitas sejumlah wanita penghuni wisma saat melakukan razia kependudukan dikawasan lokalisasi Dolly, Surabaya, Rabu (7/9). Razia dilakukan untuk mendata kembali jumlah PSK yang cenderung bertambah seusai lebaran. Dikawasan lokalisasi Dolly terdapat 57 wisma dan 1128 pekerja sek komersial. TEMPO/Fully Syafi
Topik
Foto Terkait
Pekerja Seks Komersial Afrika Rentan HIV
TEMPO.CO, Kanada -Sejumlah pekerja seks komersial asal Afrika diketahui secara alamiah resisten terhadap virus HIV. Temuan ini diharapkan bisa membantu menemukan upaya pencarian vaksin HIV.
Peneliti dari Departemen Mikrobiologi dan Immunologi University of Montreal Hospital Centre, Kanada, mengatakan para perempuan tersebut dilindungi oleh respons peradangan yang lemah dan tidak biasa dalam vagina mereka.
"Di bagian dunia ini, perempuan mewakili lebih dari 60 persen kasus HIV, dan proporsi ini terus meningkat," kata seorang peneliti, Dr. Michel Roger, dalam siaran persnya. "Meneliti perempuan yang secara alamiah resisten terhadap virus memungkinkan penelit mengindentifikasi informasi menarik dalam kaitan pengembangan vaksin atau gel mikrobid yang dapat mencegah transmisi virus HIV," lanjutnya.
Dalam studinya, para peneliti mengikuti perkembangan perempuan dari Benin dan Zimbabwe lebih dari 15 tahun. Mereka menemukan bahwa ketika beberapa perempuan tersebut terpapar HIV, sel-sel kekebalan tubuh dalam vagina mereka memproduksi lebih sedikit molekul peradangan dibanding perempuan lainnya yang juga terinfeksi virus.
Meskipun molekul-molekul tersebut biasanya sangat membantu dengan mengaktivasi sel-T limposit yang memusnahkan virus, namun sebenarnya HIV menggunakan sel-T tersebut untuk menginvasi tubuh seseorang. "Lebih sedikit sel-sel T berarti lebih sedikit sel-sel target yang tersedia bagi virus untuk digunakan (untuk menginvasi)," kata Roger.
Para peneliti juga menemukan respons kekebalan perempuan dalam vagina mereka--tempat dimana virus masuk--berbeda dari respons tubuh mereka saat virus masuk dalam aliran darah. Studi menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menghentikan penyebaran virus adalah dengan memblok virus memasuki tubuh, dibanding dengan menyerangnya ketika virus sudah masuk.
"Penelitian vaksinasi AIDS sepenuhnya difokuskan pada aliran darah dan pendekatan ini adalah sebuah kesalahan," kata Roger. "Penelitian kami menunjukan bahwa respons tubuh adalah berbeda pada tempat yang terinfeksi dan kita seharusnya kembali pada titik masuk untuk menemukan cara untuk memblok virus," lanjut dia. AMIRULLAH/HEALTH DAY





