foto

REUTERS/Remote/Pawel Kopczynski

Kekhawatiran Pelambatan Ekonomi Tekan Indeks Saham

TEMPO.CO, Jakarta - Tingginya harga minyak yang bisa memicu inflasi yang akan berdampak pada melambatnya ekonomi global kini giliran menjadi perhatian investor. Masalah tersebut membuat bursa domestik kembali melemah. Turunnya harga saham di bursa Wall Street yang diikuti bursa Asia kembali menekan indeks saham lokal.

Dalam perdagangan hari ini, Kamis, 23 Februari 2012, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia turun 36,215 poin (0,91 persen) ke level 3.958,809. Dari 10 indeks sektoral di bursa, hanya sektor konstruksi yang berhasil naik kali ini.

Analis dari PT BNI Securities Nurico Gaman menjelaskan, masih adanya kekhawatiran di kawasan Eropa serta kenaikan harga minyak di atas US$ 100 per barel memberikan dampak negatif bagi bursa. Di saat terjadinya resesi di Eropa, ditambah dengan melonjaknya harga minyak, akan memperlambat ekonomi global. “Ini yang membuat investor khawatir,” katanya.

Dari faktor domestik, diturunkannya pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,7 persen menjadi 6,5 persen untuk merespon memburuknya kawasan Eropa juga turut membebani perdagangan bursa.

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi bulan April seiring naiknya harga minyak dunia ke level tertingginya dalam sembilan bulan terakhir dapat berdampak negatif bagi perekonomian domestik. Naiknya harga BBM akan memicu kenaikan harga barang dan inflasi tinggi sehingga dapat memperlambat perekonomian.

Naiknya harga barang, kata Nurico, akan membuat daya beli masyarakat berkurang. Artinya, konsumsi masyarakat juga akan menurun, padahal konsumsi masyarakat menyumbang hingga 70 persen dari perekonomian nasional.

Volume perdagangan mencapai 5,36 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp 4,15 triliun, serta frekuensi 107,1 ribu kali. Harga 152 saham turun, 55 saham naik, serta 109 saham lainnya stagnan. Dan investor asing kembali mencatat penjualan bersih Rp 122 miliar.

Saham-saham yang menyeret kejatuhan indeks kali ini antara lain: Perusahaan Gas Negara (PGAS) jatuh 3,3 persen menjadi Rp 3.650, United Tractor (UNTR) terkoreksi 3,3 persen ke Rp 28.250, Unilever (UNVR) melemah 3,1 persen ke Rp 18.550.

Demikian pula Bank Mandiri (BMRI) turun 2,3 persen menjadi Rp 6.300, Bank Danamon (BDMN) susut 2,2 persen menjadi Rp 4.400, serta Astra International (ASII) juga tergerus 2,1 persen menjadi Rp 70.850 per saham.

Sebagian besar bursa regional ditutup melemah, kecuali bursa Tokyo naik 0,44 persen karena diuntungkan oleh terdepresiasinya yen terhadap dolar AS. Dengan melemahnya yen maka produk dari Jepang semakin mampu bersaing di pasar internasional.

VIVA B. KUSNANDAR