Koperasi Langit Biru dan Kisah Arisan Daging

Koperasi Langit Biru dan Kisah Arisan Daging

TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Tangerang -- Nasib memang tidak bisa diterka. Kemungkinan itu yang dirasakan Ustad Jaya Komara, pendiri Koperasi Langit Biru (KLB). Berawal dari arisan daging yang hanya melibatkan keluarga, tak dinyana kini bisa menjaring ribuan nasabah.

"Awalnya hanya arisan daging sapi, karena adik saya 'pemain' daging sapi. Dia beli kaki sapi dan daging, lalu dipasok ke rumah makan," kata Kohar, kakak kandung Jaya Komara, ketika ditemui Tempo di Perumahan Bukit Cikasungka Blok ADF 13 Nomor 2, 3, 4, dan 5, Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten.

Melambungnya harga daging menjelang Lebaran mendorong Ustad Jaya berpikir bagaimana kalau dibuat arisan daging. Ia pun mengajak saudaranya mengikuti arisan daging dengan cara menyimpan uang. Dan pada Lebaran nanti, hasil uang yang terkumpul akan dibelanjakan untuk membeli daging.

“Tapi, belum sampai Lebaran, Ustad Jaya bisa membagikan daging sapi dari keuntungan pembelian daging yang diputar dan dikembalikan kepada peserta arisan,” ucap Kohar.

Melihat keuntungan yang besar, banyak saudara Ustad Jaya yang tertarik dan ingin bergabung. Warga pun latah, sehingga nasabah semakin banyak dan kini mencapai 110 ribu anggota.

Sekretaris KLB Asrori menuturkan, karena keuntungan koperasi yang semakin melimpah, akhirnya pengurus tidak hanya memberikan daging. Mereka yang ikut penyertaan modal di atas 20-100 kilogram akan mendapat bonus. Caranya, anggota menyerahkan fotokopi KTP, KK, foto diri, dan klasifikasi paket.

Misalnya, jika anggota koperasi memilih paket 100 kilogram daging, ia harus menyerahkan uang sebesar Rp 7,5 juta. Pengurus koperasi akan membagikan bonus setiap bulan senilai Rp 1,7 juta dalam bentuk tunai dan bahan kebutuhan pokok berisi beras, sarden, dan bawang merah-putih senilai Rp 350 ribu.

Dalam kurun dua tahun, ia dijanjikan akan mendapat bonus hingga akhir masa perjanjian yang besarnya mencapai Rp 100 juta. Anggota koperasi akan ditawarkan alternatif, apakah dalam bentuk tunai atau untuk biaya perjalanan haji.

Usahanya mengalami perkembangan pesat. Belum genap setahun, koperasi simpan-pinjam ini sudah mampu melebarkan usaha, antara lain mendirikan pabrik minyak goreng merek A-Tin (PT Andalusia) yang berlokasi di Tulungagung dan tambang pasir besi di Cilacap seluas 40 hektare.

Kemudian membangun pabrik air mineral bermerek Salfa. Selain itu, ada aset lain berupa lima gudang untuk bahan kebutuhan pokok, gedung, dan mendirikan Indo Jaya Komara, yang melayani kesehatan dan kesejahteraan anggota. "Ini semacam asuransi jiwa, yang sakit kami bantu," katanya.

Baru-baru ini, KLB bekerja sama dengan para petani plasma di Padang dan memproduksi 10 ton minyak sawit. “Seluruh pencapaian usaha itu dikembalikan kepada anggota, di antaranya dalam bentuk bonus dan bahan pokok,” ucapnya.

AYU CIPTA



Berita Terkait
Polisi Diminta Usut Kasus Koperasi Langit Biru
Penipuan Berkedok MLM Kembali Makan Korban

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
2
KLB yang saya tau saat itu hanya sibuk mengurusi pendaftaran jumlah anggota baru(JAB),Karena jumlah anggota lama(JAL) akan terpenuhi Bonus Propitnya setiap bulan apabila pertambahan (JAB) seimbang dengan jumlah (JAL). Perusahaan tdk akan sanggup membayar bonus propit setelah bulan ke 6,apabila pertambahan jumlah (JAB) tidak 2 lipat dari jumlah (JAL). Trims!
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X