Petugas SPBU sedang melakukan pengisian bahan bakar pertamax. TEMPO/Dasril Roszandi
Topik
HIPMI Setuju Kenaikan Harga BBM
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Hari Warganegara, menyatakan HIMPI setuju dengan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, pencabutan subsidi energi tersebut merupakan konsekuensi yang harus dihadapi untuk negara yang akan masuk kategori negara maju.
“Nantinya, dana yang didapat dari pencabutan subsidi tersebut akan berguna bagi pembangunan,” kata Hari saat dihubungi, Kamis, 23 Februari 2012. Menurut dia, pembangunan untuk pendidikan dan kesehatan lebih penting.
Hari juga meminta pemerintah tidak usah memaksakan penggunaan sistem elektronik untuk memisahkan kendaraan pribadi dengan kendaraan pelat kuning. “Jangan khawatir dengan oknum-oknum yang menimbun BBM. Berapa sih jumlah mereka? Aturan untuk itu kan ada, harus tegas dijalankan,” katanya.
Pengusaha kecil, menurut Hari, tidak akan terkena imbas kenaikan harga tersebut. Ia menyatakan kenaikan harga hanya untuk kendaraan pribadi, maka mobil niaga dan kendaraan umum tidak akan terkena dampaknya.
Bagi pengusaha yang masih menggunakan pelat hitam untuk menjalankan bisnisnya, ia meminta mereka segera beralih ke pelat kuning. “Fungsinya kan seperti itu, untuk membedakan yang mana mobil niaga dan yang bukan,” katanya.
Bahkan, kendaraan Mercedes Benz tidak akan terkena kenaikan tersebut jika memakai pelat kuning. “Lihat saja taksi Silver Bird,” kata Hari.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi sudah tak bisa dihindari. Sebab, perekonomian global sudah memberi sinyal adanya kerawanan dan ketidakpastian.
Bahkan dampak krisis mulai dirasakan bangsa-bangsa sedunia. "Harga BBM, mau tidak mau, harus disesuaikan dengan kenaikan yang tepat," ujar Presiden kemarin.
MUHAMAD RIZKI





