Camera & Photo Imaging Show 2012 (CP+12) di Yokohama, Jepang. TEMPO/Gilang Rahadian
Topik
Perang Teknologi Produsen Kamera
TEMPO.CO , Yokohama - Dinginnya udara awal Februari rupanya tak sanggup menyurutkan persaingan panas sejumlah produsen kamera papan atas dalam Camera & Photo Imaging Show 2012 (CP+12) di Yokohama, Jepang, dua pekan lalu.
Dua raksasa industri kamera dunia, Canon dan Nikon, saling berhadapan untuk bersaing ketat merebut perhatian pengunjung. Keduanya mengeluarkan jagoan terbaru kamera profesional full frame, Canon EOS-1DX dan Nikon D4.
Pameran kali ini seolah ingin meyakinkan dunia kembali bahwa industri kamera masih tetap eksis di Jepang. Negeri Sakura mengklaim dirinya sebagai heartland of the photo imaging industry.
Pameran yang ditujukan bagi para pelaku bisnis fotografi dan konsumen ritel ini menjadi penanda kebangkitan industri fotografi setelah melewati 2011, yang dianggap sebagai “tahun terburuk” ekonomi di kawasan Asia Timur.
Memburuknya ekonomi terjadi setelah gempa besar dan tsunami melanda Jepang pada Maret tahun lalu, banjir dahsyat di Thailand, dan pengaruh krisis ekonomi global dunia.
Mengusung tema The Power of Photography to Bring the World Together, pameran empat hari pada 9-12 Februari 2012 lalu ini mengambil tempat di Exhibition Hall dan Annex Hall Pasifico, Yokohama.
Acara tahunan yang diselenggarakan Camera & Imaging Product Association (CIPA) ini diikuti oleh pelaku industri kamera fotografi, handycam, lensa, aksesori kamera, dan industri pendukung lainnya.
Ada sekitar 70 stan peserta pameran dengan berbagai ukuran yang memadati Hall 1F. Sedangkan jumlah pengunjung membeludak hingga 65.120 orang. Menurut panitia, ada kenaikan 31,9 persen dibanding tahun lalu yang dihadiri 49.368 pengunjung.
Pengunjung dari berbagai usia antusias memelototi kamera yang dipajang para produsen kakap, seperti Canon, Nikon, Olympus, Sony, Pentax, Panasonic, Sigma, dan Casio. Saat diberi kesempatan mencicipi beberapa produk baru dalam test drive, antrean pun mengular.
Panggung Canon dijejali pengunjung yang hendak mencoba si lensa putih EF 500-600 mm. Seorang fotografer asal Tokyo pun rela antre setengah jam hanya untuk mencoba jepretan Nikon D4.
Seperti tak mau ketinggalan oleh dua merek adidaya tersebut, beberapa produsen terkemuka lainnya juga merilis produk unggulan DSLR-nya, antara lain Olympus E-5, Panasonic GH2, Sony a77, Pentax 645D, dan Sigma SD1.
Yang paling menikmati pameran ini tentu para fotografer amatir yang datang menenteng kamera DSLR, yang rata-rata kelas medium. Mereka berburu obyek yang disajikan hampir di setiap stan, yakni model-model cantik yang berpose untuk menjadi bidikan lensa kamera.
Selain kamera DSLR EOS-1DX, yang dianggap oleh publik fotografi sebagai puncak dari pencapaian teknologi kamera, Canon meluncurkan produk primadona lain, yaitu kamera Cinema EOS C300, yang ditujukan bagi industri perfilman.
C300 terbilang canggih. Sensornya 8,29 megapiksel CMOS, sangat ideal untuk pembuatan sinema digital. Sensitivitas maksimum ISO 20.000 sehingga para pembuat film bisa mengambil gambar dalam cahaya minim sekalipun.
Keunggulan lainnya ialah ketersediaan format lensa EF yang biasa dipakai pada kamera DSLR. Ini memudahkan para pengguna kamera, semisal EOS D5 atau D7, memakai C300 tanpa harus mengganti lensa dengan yang baru.
Dua produk unggulan inilah yang membuat Canon, dalam perhelatan CP+2012, mengklaim diri sebagai yang terdepan dalam industri kamera.
Sisi lain yang tak kalah menarik ialah CP+ dimeriahkan oleh pameran sejarah 150 tahun fotografi Jepang, yang disajikan oleh JCCI Camera Museum.
Di stan ini tergambar perjalanan teknologi foto dan hasil karya sejak periode Bakumatsu dan periode Meiji yang dianggap awal pertemuan Jepang dengan budaya Barat.
Kamera vintage berusia 100-an tahun lebih dipajang lengkap dengan kursi dan penyangga kepala. Penyangga ini diperlukan karena pada masa itu proses penciptaan gambar pada kamera membutuhkan waktu lama, sedangkan posisi si obyek tak boleh bergerak sedikit pun.
Adanya pameran sejarah 150 tahun fotografi Jepang di pameran CP+ ini seolah ingin merefleksikan betapa kemajuan teknologi kamera saat ini harus melalui proses tahap demi tahap yang cukup panjang.
GILANG RAHADIAN (YOKOHAMA)





