Apa Hubungan Yawadwipa dengan Keluarga Cendana?


TEMPO.CO, Jakarta - Chief Operating Officer Yawadwipa Group of Companies Prasetyo Singgih mengatakan kendati masih berhubungan akrab dengan keluarga Cendana, ia menegaskan tak ada campur tangan keluarga mantan Presiden Soeharto itu dalam persoalan bisnisnya, termasuk rencana pembelian Bank Mutiara.

Singgih memang memiliki “hubungan” dengan Keluarga Cendana. Kakaknya, Pratikto Singgih, adalah bekas suami Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto. “Kakak saya kan punya anak (dengan Mamiek), jadi otomatis hubungan itu tidak akan putus begitu saja,” ujarnya kepada Tempo pekan lalu.

Putra-putri almarhum Pak Harto, kata Singgih, sampai sekarang tak pernah berubah kepada keluarganya. Begitu pun sebaliknya. Sedari almarhum Ibu Tien masih hidup pun istri Pak Harto itu menghendaki hubungan yang amat baik dengan besan-besannya.

Namun, keakraban dua keluarga tersebut tak menjalar ke urusan bisnis dan keuangan. “Tidak. Bahkan saya rasa kiprah Keluarga Cendana tak lagi menonjol di bidang bisnis. Kalaupun bertemu, kami tak pernah berbicara tentang peluang bisnis,” kata Singgih.

Nama Yawadwipa mendadak mencuat ke permukaan. Perusahaan investasi asal Singapura yang baru berdiri pada 9 Januari 2012 itu, menyatakan siap membeli Bank Mutiara seharga Rp 6,7 triliun. Angka itu setara dengan dana talangan yang dikucurkan pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kepada bank yang dulunya bernama Century tiga tahun lalu.

Penawaran ini mengejutkan. Pengamat perbankan menaksir harga wajar bank bekas milik Robert Tantular itu, saat ini Rp 3 triliun hingga Rp 3,5 triliun saja. Tahun lalu LPS mendiskualifikasi sembilan penawar Bank Mutiara karena dianggap tak jelas investor utamanya.

Yawadwipa muncul dengan teka-teki baru: angka Rp 6,7 triliun dianggap terlalu berlebihan untuk satu bank bermasalah yang kasus politiknya bahkan belum tuntas. Meski secara teknis rencana Yawadwipa mengakuisisi Bank Mutiara dari LPS dibolehkan, sejumlah dugaan merebak.

Alasan bahwa pembelian ini “murni bisnis” tak cukup meyakinkan khalayak. Ada yang mencurigai campur tangan pemilik lama, ada pula yang mereka-reka dugaan keterlibatan beberapa pengusaha besar. Ada pula yang menaruh syak, jangan-jangan ini pencucian uang.

BOBBY CHANDRA | ANDARI KARINA ANOM

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X