Dua Kompetisi PSSI, Visa Pemain Asing Terancam

Dua Kompetisi PSSI, Visa Pemain Asing Terancam

Pelatih PSM Makssar Peter Segart (kanan) mengamati pemain asing Ochai Agbajie asal Nigeria saat mengikuti seleksi pemain PSM Makassar di Lapangan Karebosi, Makassar, Rabu (8/2). TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO.CO, Jakarta- Sebanyak 81 pemain asing yang berlaga di Liga Super Indonesia (LSI) terancam dideportasi karena tak bisa memperpanjang visa kerja mereka. Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) mendesak dualisme kompetisi yang saat ini terjadi segera diakhiri.

"Karena perpanjangan visa mereka kemungkinan tidak akan didapatkan. Rekomendasi tidak mungkin dikeluarkan PSSI karena mereka berada di luar kompetisi PSSI," kata Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin, di kantornya, Kamis, 29 Maret 2012.

Djohar mengatakan visa para pemain asing kemungkinan akan habis pada Juli mendatang, bersamaan dengan berakhirnya kompetisi Liga Super dan Liga Prima Indonesia. Jika hingga tenggat tersebut visa belum diperpanjang, para pemain asing ini bakal dideportasi.

Visa para pemain asing yang berlaga di LSI tak bisa diperpanjang karena mereka tak terdaftar di PSSI, yang hanya mengakui LPI sebagai kompetisi resmi. Padahal rekomendasi PSSI menjadi syarat untuk proses pembuatan dan perpanjangan visa kerja.

Djohar mengatakan keresahan para pemain asing ini sebagai buntut dari dualisme kompetisi yang tak kunjung kelar. Karena itu ia berharap klub-klub LSI menerima tawaran rekonsiliasi yang diajukan PSSI. "Bagi pemain asing ini menjadi sangat menakutkan," katanya.

Ia juga meminta para pemain di klub-klub LSI mendorong manajemen klub untuk menyelesaikan persoalan dualisme kompetisi. "Kami minta mereka mendorong penyelesaian masalah ini. Karena kita semua yang rugi," katanya.

Ketua Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Indonesia, Ponaryo Astaman, mengatakan pihaknya siap membantu PSSI untuk menyelesaikan dualisme kompetisi yang saat ini terjadi. "Kami harap situasi ini cepat selesai, sehingga tidak ada dualisme," katanya.

DWI RIYANTO AGUSTIAR

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Perang antara Nafsu, Perut dan Rasa Malu telah terjadi.....
Wajib Baca!
X