Jokowi-Ahok Buka Posko Tim Sukses

Jokowi-Ahok Buka Posko Tim Sukses

Pasangan Calon Gubernur dan Wagub DKI Joko Widodo (kiri) dan Basuki Tjahaya Purnama menunjukkan dokumen pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), Jakarta, (19/3). ANTARA/Yudhi Mahatma

TEMPO.CO, Jakarta - Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok hari ini membuka tempat pendaftaran tim sukses/relawan Jokowi-Ahok. Bersama Joko Widodo, Ahok kini diusung sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra.

Rumah pemenangan Jokowi Ahok itu berada di Jalan Cempaka Putih Raya, berada sekitar 100 meter di belakang Hotel Grand Cempaka. Rumah dengan dinding berlapis ubin warna hijau itu mudah dikenali karena banyak bendera dan umbul-umbul Partai Gerindra di bagian pagarnya. Apalagi, saat peresmian, Ahok secara simbolis memasang spanduk bergambar dirinya dan Jokowi di bagian gerbangnya. "Kami sangat berterima kasih pada dukungan para kader atas pencalonan kami. Rumah ini akan kami gunakan sebaik-baiknya," kata Ahok, Ahad, 1 April 2012.

Sekitar 200 kader Gerindra turut menghadiri peresmian Rumah Pemenangan Jokowi-Ahok. Karena kondisi rumah yang memungkinkan, tamu dijamu di Rumah Hook, sebuah restoran keluarga yang berada tepat di depannya. Hanya, jamuan itu tidak gratis. Kader harus membayar Rp 20 ribu untuk menikmati santap siangnya. Menu yang ditawarkan berupa nasi goreng dan es teh atau ayam goreng dan es jeruk.

Jurus ini diakui Ahok sebagai salah satu cara menghemat ongkos kampanye. "Kami akui, kami tidak punya dana yang besar, semua atas partisipasi kader," katanya. Sebelumnya, pasangan Jokowi-Ahok juga mengumpulkan dana kampanye dengan menjual kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khas mereka.

Rumah Pemenangan Jokowi-Ahok dipinjamkan oleh seorang kader Gerindra yang bernama Iman Satria. "Dia ikhlas meminjamkan rumahnya untuk pencalonan ini," kata Muhammad Taufiq, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerindra DKI Jakarta.

PINGIT ARIA

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
2
Kalau boleh warga Jakarta tetap memilih orang Betawi dan Jawa yang naisonalis religius. Saat ini hanya pemerintahan dan politik yang masih bisa eksis. Kalau bisnis dan usaha serta sektor swasta lainnya rasanya tak kan mampu bersaing lagi. sekedar saran untuk abang dan none Jakarte