indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Panti Pijat di Batu Tidak Boleh Di Jalan Utama

Panti Pijat di Batu Tidak Boleh Di Jalan Utama

Kota Batu/TEMPO/ Bibin Bintariadi

TEMPO.CO, Kota Batu - Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, memutuskan untuk tidak lagi mengeluarkan izin usaha panti pijat maupun tempat hiburan malam di jalan utama Kota Batu. "Keputusan diambil sesuai kesepakatan dengan ulama dan tokoh agama Kota Batu," kata Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Batu, Samsul Bahri, Minggu, 8 April 2012.

Samsul juga menjelaskan bahwa tidak lagi dikeluarkan izin usaha panti pijat dan hiburan malam di kawasan jalur utama karena disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Dalam RTRW yang telah disahkan ke dalam peraturan daerah disebutkan bahwa daerah protokol menjadi area publik yang tidak boleh diisini usaha seperti panti pijat dan huburan malam.

Jumlah tempat usaha seperti itu yang berlokasi di jalan utama juga dinilai sudah terlalu banyak. Di sepanjang Jalan Raya Kecamatan Beji, Kota Batu, hingga kini terdapat 15 tempat panti pijat. Bagi investor yang ingin membuka usaha tersebut diminta mencari lokasi lain.

Samsul mengakui bahwa kontribusi usaha panti pijat maupun hiburan malam bagi pendapatan asli daerah (PAD) cukup tinggi. Pada 2010 bisnis panti pijat menyumbang PAD senilai Rp 100 juta, dan pada 2011 naik menjadi Rp 147 juta.

Jumlah pengunjung panti pijat juga terus meningkat. Tahun 2010 sebanyak 25.621 orang, dan naik menjadi 28.000 orang pada 2011. Mereka bukan hanya warga Kota Batu. Jumlah terbanyak justru berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur dan kota-kota lainnya di Indonesia, terutama pada masa liburan.

Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, Made Suwardika, mengatakan ramainya pengunjung panti pijat maupun tempat hiburan malam karena Kota Batu juga dipadati wisatawan. Setiap tahun meningkat rata-rata dua persen. Pada 2010 jumlah kunjungan wisata 3,1 juta orang, 2011 naik menjadi 3,2 juta orang. “Kontribusi dari retribusi kunjungan wisatawan tahun ini ditergetkan Rp 103 juta,” ujar Suwardika.

EKO WIDIANTO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X