Rusia Garap Proyek Ekonomi Rp 21 T di Indonesia

Rusia Garap Proyek Ekonomi Rp 21 T di Indonesia

Direktur Kalimantan Rail PTE Ltd., Andrey Shigaev saat diwawancara Tempo di hotel J.W Marriott, Jakarta, Jumat(2/3). TEMPO/Dwianto Wibowo

TEMPO.CO , Jakarta - Lebih dari 60 tahun membangun hubungan bilateral dengan Indonesia, Rusia mulai tahun ini melebarkan bisnisnya ke proyek nonmiliter. Pembangunan rel kereta api di Kalimantan Timur menjadi proyek kerja sama Rusia-pemerintah daerah pertama dengan nilai investasi lebih dari Rp 21 triliun.

“Kami tidak berharap ada perlakuan khusus atau kebijakan fiskal yang meringankan. Kami hanya butuh izin mereka untuk bekerja di sini,” kata Andrey Shigaev, Direktur Kalimantan Rail Pte Ltd kepada Gusthida dan Maria Rita dari Tempo di Jakarta Maret lalu. Berikut ini petikan wawancaranya.

Apa yang membuat Rusia tertarik di bisnis perkeretaapian di Kalimantan?
Pembangunan rel kereta api di Kalimantan akan sangat bermakna bagi perkembangan kedua negara. Selama ini, kami (Rusia) tidak punya banyak kerja sama bisnis bersama (dengan Indonesia). Selama ini, kerja sama hanya di bidang persenjataan, publikasi, namun sepengetahuan saya, bukan kerja sama komersial yang besar. Saat kami datang mencari peluang pertama kali ke sini, kami belum jelas tentang apa yang akan kami lakukan. Apa problem di negara ini yang harus diatasi dalam bisnis? Apa yang paling dibutuhkan untuk mengundang investor?

Apakah ini proyek pertama Anda di Indonesia?
Russian Railway punya banyak proyek di luar negeri. Namun Indonesia khusus. Kami tidak punya proyek yang berkaitan dengan batu bara langsung. Salah satu proyek besar kami itu ada di Mongolia. Saya percaya proyek ini adalah proyek yang sangat besar yang pernah terjadi dalam waktu cepat. Proyek di Kalimantan bukan proyek yang dijadwalkan, tapi proyek yang disarankan oleh pemerintah kepada Russian Railway untuk menerima dan mengerjakannya secara cepat. Jadi tidak bisa disebut proyek ini dasarnya hanya komersial.

Jadi ini proyek terbesar Anda di Indonesia?
Yang jelas ini proyek besar. Tapi kurang yakin apakah ini yang terbesar, tapi ini spesial. Jika dicermati dari ukurannya, jelas ini salah satu dari yang terbesar.

Bagaimana awal Rusia mendapatkan proyek ini?
Jadi yang terjadi begini, pada tahun 2010, bos saya dari Russian Railway bersama rekannya, yaitu Deputi Menteri Perhubungan Rusia, datang ke Konferensi Infrastruktur Indonesia--konferensi besar yang digelar tiap tahun di sini. Jadi ada delegasi yang datang dan mendapatkan saran dari komunitas tambang di sini soal proyek rel kereta ini. "Kenapa kalian tidak pertimbangkan kesempatan untuk bangun rel kereta api dari Kalimantan Tengah sampai ke pantai?" Kami telah kalkulasikan dan evaluasi proyek tersebut dan hasilnya sangat menarik. Ini pertama kali kami sadar betapa pentingnya untuk mengajukan investasi di Republik Indonesia. Tapi yang ini (Indonesia) salah satu proyek besar yang menjadi fokus Russian Railway dan tingginya komitmen kami.

Apakah Russian Railway itu perusahaan BUMN?
Ya, 100 persen perusahaan pemerintah yang punya sejarah sangat panjang. Kami mengerjakan setidaknya 1,3 juta pekerja. Kami menanamkan uang kami di lembaga pendidikan dan lainnya di Rusia dan ini juga kami lakukan di negara-negara yang kami tuju. Pembangunan rel kereta api, misalnya, itu akan berdampak pada masyarakat lokal di sekitarnya.

Seperti apa yang Anda maksud berdampak pada masyarakat lokal?
Ya, ada program pertanggungjawaban sosial yang harus kami emban juga. Jadi, sebelum bertemu dengan kalian, saya juga bertemu dengan komunitas dari Kalimantan untuk melihat apa yang harus diperhatikan dalam pembangunan ini nantinya. Pertanggungjawaban sosial juga akan jadi fokus utama kami.

Mengapa memilih bisnis privat dan bukannya di area publik?
Anda bisa saja kan bekerja sama dengan BUMN di sini, misalnya Bukit Asam. Tapi Anda malah memilih kerja sama dengan KP-KP kecil di Kalimantan.

Saya juga mau kerja sama dengan Bukit Asam, tapi ini adalah proyek pertama yang datang ditawarkan pada kami di Kalimantan. Sekarang kami juga didekati oleh Sulawesi soal rel kereta, oleh pemerintah Sumatera juga. Tapi Kalimantan merupakan daerah di mana paling banyak pengusaha butuh untuk membangun infrastruktur.

Bagaimana prosesnya Anda bisa menjalin kerja sama seperti ini?
Kami melihat ada proyek yang dibutuhkan. Kami bicara dengan para final users setelah melakukan evaluasi dengan sumber daya yang kami miliki. Kami datangi semua perusahaan tambang di sekitar area tersebut. Lalu kami bilang, "Lihat, kami bisa bangunkan rel kereta untuk kalian dan itu bisa menekan biaya produksi kalian karena akan lebih murah dari yang kalian gunakan sekarang. Lebih dapat diandalkan, lebih efisien, lebih environmental friendly.”

Jadi Anda melihat potensinya lebih dulu?
Ya, lalu mereka jawab iya. Kemudian kami bawa ini ke tingkat pemerintah. Kami bicara dengan pemerintah Indonesia pada 2010, salah satunya dengan deputi di Kementerian Perhubungan. Kami memang berbicara dulu dengan Menteri Perhubungan secara umum soal proyek ini, lalu kami mulai cari tahu dan kerjakan. Kami yakin ini proyek yang harus dikejar.

Selanjutnya kami menemui Menteri Ekonomi, BKPM, Menteri Pekerjaan umum, dan mendapatkan persetujuan mereka semua secara prinsipal. Lalu ada rapat lebih rinci soal penggarapan proyek ini. Rapat lagi dengan para pengusaha tambang juga dengan pemerintah. It all goes like a circle, spiral.

Kami tidak bisa tiba-tiba mengeluarkan uang dalam jumlah besar tanpa mengeliminasi risiko terlebih dahulu agar uang tidak terbuang sia-sia. Sekarang kami sudah dapat persetujuan pemerintah karena di sini kami memang butuh kerja sama dari pemerintah. Kami tidak berharap ada perlakuan khusus atau kebijakan fiskal yang meringankan. Kami hanya butuh izin mereka untuk bekerja di sini, dan pemerintah memberikannya.

Siapa pengusaha yang merekomendasikan proyek ini ke Anda?
Kami tidak bisa bicarakan soal itu, terlalu sensitif.

Tentu Anda sudah memahami masalah pertambangan di Indonesia?
Itu normal-normal saja, ada di setiap negara. Tapi kami tahu, untuk proyek ini, kami sudah berada di arah yang benar. Awal yang bagus sehingga ke depan diharapkan juga berjalan baik.

Berapa nilai investasi di proyek ini?
Saat ini kami fokus di tahap pertama proyek di Kalimantan Timur. Tahap pertama ini membutuhkan setidaknya US$ 1,8-2 miliar untuk 180 kilometer. Di tahap ini, proyek masih bisa mengalami penyesuaian untuk memadukan dan merekayasa solusi yang kami terapkan, sehingga nilainya boleh jadi berubah dalam kisaran ini.

Kami mengerti setelah konstruksi rel kereta api Puruk Cahu-Bangkuang di Kalimantan Tengah. Nantinya kedua rel kereta api ini dapat terhubungkan. Untuk itu, butuh konstruksi rel kereta api sepanjang 65 kilometer dan perkiraan dana yang dikeluarkan sekitar US$ 400-500 miliar. Dana ini termasuk keperluan meningkatkan kapasitas kereta api dan infrastruktur. Pada proyek ini, butuh koordinasi yang cermat dengan pemerintah Kalimantan Tengah.

Apakah rel kereta api nantinya dapat digunakan oleh masyarakat?
Kalau diikutin diskusinya, niatnya memang jalur kereta ini akan terbuka untuk publik. Kami tahu banyak yang berharap bisa jadi angkutan publik. Tapi, pertama-tama, kami memang butuh bantuan perusahaan tambang agar proyek ini bisa selesai.

Dari mana sumber dana proyek ini?
Sekarang sih masih didanai penuh oleh Russian Railways. Tapi, untuk pengerjaan sampai akhir, ada juga dana dari bank, baik bank Rusia maupun internasional. Juga ada keterlibatan bank lokal di sini pastinya. Ngomong-ngomong, mereka punya isu yang sangat kuat soal lingkungan untuk setiap proyek yang didanai. Kami tahu ini dari awal sehingga kami juga memiliki beberapa program sosial yang menjadi garansi.
Pastinya dari Bank Russia bersedia meminjamkan dananya kepada Russian Railways karena memang kami punya ikatan cukup lama selama ini.

Datang ke sini sebagai investor dan kontraktor sekaligus?
Ya, Kalimantan Railway dibiayai oleh Russian Railways untuk mengembangkan proyek ini. Konstruksi adalah satu hal yang harus diperhatikan, dan karena kami yang mengembangkan, kami harus menjaga hal terkait konstruksi. Kemudian harus diingat Russian Railways menginginkan ini sebagai proyek yang visible dan optimal.

Apakah ada niat bekerja sama dengan perusahaan lokal pada saat konstruksi?
Tentu saja. Dengan segala hormat, kalian tidak mungkin membayangkan kami memboyong ribuan orang dari Rusia untuk membangun jalur kereta ini kan? So, kami butuh keterlibatan masyarakat lokal untuk pembangunan konstruksi. Untuk sumber material juga akan kami cari pasar di sini. Peralatan dari PT Inka, misalnya. Tapi kami juga harapkan standarnya baik atau bisa di-upgrade agar dapat sesuai dengan proyek ini. Bakal banyak butuh kerja sama.

Kapan mulai beroperasi ?
Tahun 2017

Kapan konstruksi dimulai?
Tahun 2014. Akhir 2014 sudah selesai pekerjaan pre-eliminary-nya. Desain konstruksi juga sudah rinci dan selesai sehingga bisa mulai konstruksi.

Mengapa begitu yakin?
Kami yakin proyek ini bisa berhasil. Kami datang untuk mewujudkannya. Ada komitmen besar dari Rusia dalam proyek ini. Tim teknikalnya juga langsung dari Rusia. Jadi kami tidak main-main. Kami bertanggung jawab untuk setiap hal dalam pengoperasiannya nanti. Kami lihat semua potensi hambatan, apa yang bisa dan tak bisa dibangun. Mereka sudah tahu kondisi tanah dan segala macamnya untuk proyek ini. Jika mereka sudah putuskan berarti kami akan melakukannya dan bisa berhasil.

Apa ada niat untuk memperlebar bisnis setelah Kalimantan?
Ya, kalau kami diberi kesempatan saat ini, kami fokus dulu pada pembangunan Kalimantan Railway. Kami lihat, Sumatera datang untuk kerja sama. Kami evaluasi juga soal kerja sama pembangkit di sana dan berapa besar investasi yang dibutuhkan.

Apa sih keunggulan Rusia dalam membangun rel kereta api ini di Kalimantan?
Kalau kamu sewa konstruktor untuk bangun rumah, kamu tidak mungkin cuma menyewa orang untuk mendapatkan medali sebagai rumah terbaik.

Berapa besar perkiraan profit dari perusahaan konstruksi di proyek ini?
Sekitar lima persen, tapi tidak terlalu yakin. Kami sebagai pengembang jelas tahu harganya, kami tahu berapa biayanya. Kami lihat harga komersialnya. Ini ada syarat komersial. Kalau tidak, bank tidak mungkin meminjamkan kami uang.

Apa tantangan terbesar Anda?
Proyek ini melibatkan banyak pemangku kepentingan. Kami harus meyakinkan mereka bahwa kami dapat memenuhi setiap hal yang kami janjikan. Mereka memberikan tanah untuk kami garap. Jadi kami harus memberikan mereka penjelasan, terutama pada perusahaan tambang soal timeline kereta api. Kami harus penuhi ini.

Ada persoalan dengan birokrasi di sini?
Kerja sama kami cukup baik dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat sehingga kami tidak memandang birokrasi sebagai satu isu di sini.

MARIA HASUGIAN | GUSTIDHA BUDIARTIE

Berita Terkait:
Obama Tegaskan Akan 'Marah' Jika Skandal Terbukti

Kasus 'Jajan' Pengawal Obama
Inilah Supermodel Tertua di Dunia
Bebaskan Teroris, Taliban Serbu Penjara Pakistan
Kasus Secret Service AS 'Jajan' Bukan yang Pertama
Ini Penyebab Kasus 'Jajan' Pengawal Obama Terkuak

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X