Persema Menangi ‘Derby’ Jawa Timur atas Persebaya  

Persema Menangi ‘Derby’ Jawa Timur atas Persebaya  

Pesepakbola Persebaya Surabaya, Taufik (dua dari n) dan Erol FX Iba (dua dari kiri) memprotes wasit Muclis Ali Fathoni (kanan) yang memberikan kartu merah kepada Mat Halil (kiri) dalam dalam pertandingan kompetisi Indonesia Premier League (IPL) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (22/4). ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Grafis Terkait

TEMPO.CO, Malang - Diwarnai permainan keras menjurus kasar, Persema Malang akhirnya memenangi “perang saudara” Jawa Timur yang sangat berat dan melelahkan atas Persebaya Surabaya dengan skor tipis 2-1. Laga penuh gengsi ini dihelat di Stadion Gajayana, Kota Malang, Ahad, 22 April 2012.

Tim asuhan Slave Radovski bekerja ekstra-keras untuk meraih kemenangan meski Persebaya bermain dengan sembilan orang sepanjang babak kedua setelah Mat Halil dan Erol Iba (kapten tim) diusir keluar lapangan di babak pertama.

Muchlis Ali Fathoni, wasit yang memimpin pertandingan, mengganjar Mat Halil dengan kartu merah langsung setelah pemain senior Persebaya ini menyikut mulut Kasan Soleh di menit ke-21. Adapun Erol terpaksa meninggalkan lapangan di akhir babak pertama, menit ke-45. Wasit memberi kartu kuning kedua setelah Erol menekel kaki Kim Jeffrey Kurniawan. Kartu kuning pertama diterima bekas pemain Arema itu di menit ke-7.

Alhasil, Divaldo Alves memerintahkan Andik Vermansyah dan kawan-kawan bertahan. Pelatih berkebangsaan Brazil mengubah posisi pemain. Andik ke posisi bek kiri menggantikan Erol dan Feri Ariawan ditarik menjadi gelandang. Persebaya pun bermain tanpa penyerang sepanjang babak kedua dan lebih banyak mengandalkan serangan balik.

Tim Bajul Ijo unggul lebih dulu lewat kaki Mat Halil di menit ke-14, tujuh menit sebelum diusir wasit. Meski bermain dengan sembilan orang, Bima Sakti dan kawan-kawan dipaksa untuk bermain habis-habisan, terus menekan dan mengurung, tapi juga empat-lima kelabakan ketika Persebaya nyaris menggandakan keunggulan lewat serangan balik yang digalang Andik Firmansyah, Taufiq, Rendi Irawan, dan Feri Ariawan.

Andik beberapa kali gemilang lolos dari jebakan offside, lalu mengecoh tiga-empat pemain Persema dan menggocek bola dengan berlari sangat cepat. Di menit ke-65 Andik sudah berhadapan dengan Sukasto Effendy. Namun tendangan Andik masih bisa ditepis Sukasto dan amanlah gawang Persema. Di menit ke-69 pergerakan Andik juga sangat mengancam dan mungkin berpeluang besar mencetak gol andai bek Leonard Tupamahu gagal “menghentikan” Andik dengan sikutan.

Ketangguhan Persebaya menghadang dan menyambar bola membuat anak-anak Persema nyaris “mati angin” karena pola permainan mereka mudah terbaca dan cenderung monoton walau daya gempur sudah dilipatgandakan. Hal ini terbukti dari dua gol kemenangan yang diperoleh Persema saat pertandingan memasuki masa injury time, masing-masing di menit ke-85 oleh Reza Mustofa dan menit ke-93 (tambahan waktu 3 menit) oleh M. Kamri.

Divaldo Alves mengomentari jalannya pertandingan dengan frasa “memalukan”. Menurutnya Persebaya kalah karena “dipaksa” oleh wasit untuk bermain dengan sembilan orang. “Malu. Wasit memalukan. Wasit seperti incar Persebaya terus, entah saat main di Surabaya maupun di luar (Surabaya). Dari awal Persema seperti harus menang,” dalam jumpa pers sesi pertama sehabis pertandingan. Alves didampingi Ram Surahman, juru bicara Persebaya.

Ia mencontohkan keputusan wasit menghukum Mat Halil dengan kartu merah langsung atau tanpa kartu kuning pertama setelah menyikut Kasan Soleh. Tapi wasit hanya mengganjar Kasan Soleh dengan kartu kuning saat melakukan pelanggaran brutal terhadap Andik di menit ke-3 babak pertama. “Dia pemain nakal. Di Surabaya juga dia bikin ulah. Dia tidak fair untuk teman-teman. Kartu merah untuk Halil tidak fair,” ujar dia dalam nada sangat kesal.

Selain kartu merah, Alves juga mengkritik keras terjadinya gol kedua Persema persis di dua detik terakhir babak kedua. Gol ini seharusnya tidak terjadi karena masa tambahan waktu tiga menit sudah habis.

Dengan kesal, bekas pelatih Persijap Jepara ini kembali menekankan, “Saya tak punya masalah dengan Persema. Saya tak punya negative thinking pada Persema. Tapi sepertinya waktunya sudah ditunggu. Kalau tidak ada gol, waktu ditambah sampai ada gol. Kalau tak ada gol pertama, wasit kasih tambah waktu. Kalau tak ada gol kedua, wasit pasti kasih menit lagi (untuk Persema). Waktu Endra (Prasetya) mau tendang bola, waktu sudah habis.”

Ram Surahman menambahkan, Persebaya akan melayangkan protes resmi ke PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Ini merupakan protes resmi kedua. LPIS pernah menjanjikan akan menggunakan wasit asing atau wasit terbaik untuk memimpin laga-laga kompetisi Liga Prima Indonesia mulai putaran kedua, disertai dengan perbaikan karut-marut jadwal kompetisi.

“Tapi nyatanya itu tidak ada sampai sekarang. Kalau pertandingan tadi disiarkan langsung, maka wajah orang PSSI dan LPIS pasti malu. Tapi (kritik) ini harus disampaikan untuk perbaikan dan kebaikan kita bersama,” kata Ram.

Slave Radovski menilai laga kandang melawan Persebaya merupakan
pertandingan yang paling berat dan melelahkan. Persebaya tim yang sangat kuat, dengan ikon Andik Vermansyah sebagai salah satu pemain nasional terbaik. Namun, ia menolak mengomentari kepemimpinan wasit.

Sedangkan Bima Sakti mensyukuri kemenangan yang diraih. Tiga poin didapat berkat kerja keras. Ia dan kawan-kawan kesulitan menembus pertahanan Persebaya karena sepanjang babak kedua Persebaya menumpuk semua pemainnya.

Pertandingan sengit Persema-Persebaya disaksikan langsung pendiri Grup Medco yang juga tokoh reformasi sepak bola Indonesia, Arifin Panigoro, dan CEO LPIS Widjajanto. Mereka meninggalkan tribun VVIP sekitar 10 menit jelang pertandingan berakhir.

Pertandingan sempat juga diwarnai oleh aksi segelintir suporter yang memasuki stadion menjelang pertandingan bubar. Mereka mencari-cari Bonekmania, pendukung Persebaya. Terjadi dua insiden pemukulan atas Bonek. Polisi meringkus tiga pelakunya.


 


ABDI PURMONO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X