Guru Indonesia Dinilai Kurang Inovasi  

Guru Indonesia Dinilai Kurang Inovasi  

Ratusan guru honorer saat aksi demo Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI) di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (20/2). Dalam aksinya FTHSNI meminta kepada pemerintah agar segera disahkannya RPP Tenaga Honorer yang memihak terhadap tuntutan dan perjuangan tenaga honorer seluruh Indonesia agar diangkat menjadi PNS. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Malang - Pakar pendidikan asal Jepang mengkritisi sistem dan cara guru mendidik di Indonesia yang dinilainya kurang tepat. Empat pakar pendidikan, Masaaki Sato, Atsushi Tsukui, Rio Suzuki, dan Rie Takahashi menyampaikannya di hadapan ratusan dosen Fakultas MIPA se-Jawa Timur di Universitas Negeri Malang, Kamis 26 April 2012.

"Guru Indonesia kurang inovasi dan improvisasi," kata Masaaki. Kehadiran pakar pendidikan ini merupakan kerja sama pendidikan antara Universitas Negeri Malang dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Menurut para pakar, banyak ditemukan guru yang tak menguasai materi yang diajarkan kepada siswa. Jadi, proses pengajaran di Indonesia tak sesuai dengan metode dan sistem pengajaran.

“Kegagalan pendidikan lebih banyak disebabkan oleh kesalahan guru yang kurang kreatif dalam mengajar siswanya. Apalagi mengajar materi yang berkaitan dengan sains dan pengetahuan alam,” kata Masaaki.

Untuk itu, perguruan tinggi sebagai pencetak guru diminta mengajarkan sistem pembelajaran yang kreatif. Kreativitas, katanya, merupakan modal utama guru. “Kalau guru tak menguasai materi, bagaimana siswa memahaminya?” ucap Masaaki.

Dia membandingkan dengan kondisi guru di Jepang yang diutamakan untuk pintar berimprovisasi dan kreatif. Dengan begitu, ilmu lebih mudah ditularkan kepada para siswa.

Rie Takahashi mengingatkan pentingnya kontribusi orang tua siswa dan lingkungan terhadap keberhasilan belajar siswa. “Pendidikan bukan hanya monopoli tugas pendidik dan guru di sekolah,” katanya.

EKO WIDIANTO

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Saya tidak terima masak guru indonesia tidak inovatif ngawur orang jepang wong saya pendidikan guru Bahasa Indonesia ngajar IPA di SMP.
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X