Soal Rapimnas, Ical Dituding Mabuk Kekuasaan  

Soal Rapimnas, Ical Dituding Mabuk Kekuasaan  

Aburizal Bakrie. TEMPO/Hariandi Hafid

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Forum Silaturahmi DPD II Partai Golkar Muntasir Hamid meminta Aburizal Bakrie mencabut pernyataan yang menuding dirinya tengah mabuk ketika menentang gelaran Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) Partai Golkar. Muntasir bahkan menuding Ical, sapaan Aburizal, sedang mabuk kekuasaan.

"Pernyataan Pak Ical itu naif sekali. Mungkin sebaliknya, dia yang sedang mabuk. Mabuk kekuasaan," ujarnya kepada Tempo, Sabtu, 28 April 2012.

Partai Golkar rencananya akan menggelar rapimnasus pada awal Juli 2012. Rapimnasus digelar untuk mengukuhkan Ical sebagai calon presiden dari partai beringin. Gelaran ini mendapat tentangan dari beberapa pengurus daerah.

Tentangan itu justru ditanggapi santai oleh Ical. Ia membantah ada pengurus daerah yang membangkang. "Tidak ada satu pun DPD II yang membangkang. Cuma satu orang. Barangkali baru selesai minum (mabuk)," kata Ical sebelum rapat pleno pengurus DPP Golkar di kantor DPP Golkar, kemarin.

Muntasir mengaku kecewa dengan ucapan Ical ini. Sebagai bakal calon presiden, menurut dia, Ical harus lebih hati-hati dalam melemparkan pernyataan ke muka publik. "Saya kira pernyataan seperti itu tidak pantas untuk diucapkan seorang Ketua Umum Partai Golkar. Apalagi dia baru bakal calon presiden. Saya merasa tersinggung dengan ucapan itu," ujarnya.

Sebagai seseorang yang mengaku negarawan, ia melanjutkan, Ical seharusnya tidak menyikapi aspirasi bawahannya dengan pernyataan seperti itu. Seharusnya Ical justru mengajak para bawahannya untuk berbicara dan mendengarkan aspirasi. "Katanya suara Golkar suara rakyat. Kok, seperti itu memperlakukan aspirasi saya dan teman-teman sebagai rakyat Golkar," kata dia.

Dengan pernyataan seperti itu, menurut Muntasir, justru menunjukkan Ical sudah dibutakan oleh hasrat kekuasaannya. "Itu menunjukkan kalau Bang Ical justru telah dibutakan mata hatinya oleh kekuasaan. Saya meminta Ketua Umum menarik pernyataannya dan meminta maaf secara terbuka," ujarnya.

FEBRIYAN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X