Soegija, Pertobatan Garin dalam Sinematografi  

Soegija, Pertobatan Garin dalam Sinematografi  

Garin Nugroho (kanan), dan para atis pendukung Hengky soelaiman (dua kiri), Olga Lidya (tiga kiri), Anisa (tengah) dan Andrea Refa (tiga kanan), Butet Kertaredjasa (dua kanan), Nirwan (bawah). ANTARA/Regina Safri

Topik

TEMPO.CO, Jakarta - Siapa yang tidak mengenal sutradara Garin Nugroho. Lelaki kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961, ini kerap membuat film festival yang diakui di mancanegara. Misalnya Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Under The Tree, dan Bulan Tertusuk Ilalang. Untuk banyak orang, film Garin Nugroho terlalu sulit dicerna.

Tapi kali ini Garin datang dengan film baru yang dijanjikan dapat dimengerti orang banyak. Soegija, judul filmnya.

"Ini (Soegija) bukan film berat," kata Djaduk Ferianto, produser Soegija, Kamis, 26 April 2012. "Ini adalah film pertobatan Garin. Film yang bisa dinikmati orang lain, lebih ringan, dan bagus untuk hiburan."

Pernyataan Djaduk itu diamini Garin. Kata dia, penonton dari segala umur bisa menonton Soegija tanpa kebingungan. "Anak-anak SD kelas 5 sampai nenek-kakek bisa menonton Soegija," kata Garin.

Kenapa Garin mengubah konsep sinematografinya dalam Soegija? Karena dia ingin remaja saat ini tahu bahwa Indonesia pernah punya pemimpin yang mengedepankan kemanusiaan. Bukan hanya menjadikan isu kemanusiaan sebagai sebuah wacana, seperti saat ini.

"Indonesia pernah punya pemimpin yang tangguh dan tidak menjadikan kemanusiaan sebagai sebuah wacana belaka." Sebuah hiburan, Garin melanjutkan, mampu menjadi ruang pendidikan yang baik untuk membentuk seseorang. "Dan film Soegija bisa menjadi sarana diskusi penonton tentang kondisi saat ini," ujarnya.

Soegija bercerita tentang uskup pribumi pertama di Indonesia yang juga pahlawan nasional, Mgr. Albertus Soegijapranata. Film itu menceritakan peran Soegija ketika Perang Pasifik 1940-1949, yang tidak hanya penting bagi umat Katolik, melainkan untuk Indonesia.

Sebab Soegija kerap menulis artikel untuk media luar negeri demi melawan penjajah. Silent diplomacy, nama perjuangan itu. Soegija juga memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas atas kepindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.

"Film ini merupakan tafsir sejarah yang dipopulerkan sesuai era saat ini," kata Garin.

CORNILA DESYANA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X