Alam Ikut Redam Dampak Letusan Lokon

Alam Ikut Redam Dampak Letusan Lokon

Aktifitas Gunung Lokon yang terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, (2/12). Gunung Lokon merukan salah satu gunung api yang masih aktif di Indonesia. TEMPO/Hariandi Hafid

TEMPO.CO , Jakarta: Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, mengatakan kondisi alam Sulawesi Utara turut meredam dampak letusan Gunung Lokon di Kota Tomohon. Akibat peran alam, penduduk di sekitar Lokon tidak terlalu terganggu, khususnya guyuran abu vulkanik.

Kepada wartawan di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Selasa, 1 Mei 2012, Surono menyampaikan dua peran alam. Pertama, angin selalu mendorong abu vulkanik hasil letusan Lokon keluar dari permukiman dan masuk ke arah hutan.

Peran kedua adalah setiap ada letusan selalu diikuti hujan sehingga abu vulkanik langsung terikat dan jatuh ke tanah. Debu-debu tidak beterbangan sehingga penduduk tidak harus mengenakan masker.

Kondisi alam ini disebabkan letak geografis provinsi paling utara Sulawesi itu yang ia nilai menguntungkan. "Karena Sulawesi Utara dikelilingi laut sehingga sepanjang tahun basah. Itu yang bagus," ujar Surono.

Gunung Lokon di Kota Tomohon meletus pada 11.55 WITA, Selasa, mengeluarkan abu vulkanik ke udara hingga ketinggian 2.500 meter. Beruntung debu vulkanik tersebut langsung disapu hujan dan tak berdampak banyak ke masyarakat. Letusan yang disertai bunyi dentuman keras sempat menggetarkan rumah hingga menyebabkan warga berhamburan ke luar rumah.

Pada 24 April lalu Lokon juga meletus. Surono, yang saat itu langsung meluncur ke lokasi, sempat menyarankan pembuatan jalan baru dari Tomohon ke Manado. Menurutnya, pembuatan jalan baru sangat penting sebagai alternatif jalan utama yang ada saat ini untuk mengantisipasi dampak letusan Lokon.

"Andaikan jalan satu-satunya tertutup awan panas, maka Tomohon akan terisolasi. Ini bahaya, karena kepanikan itu harus disalurkan," kata Surono. Alasan lainnya adalah karena Lokon memang cukup sering meletus.

Adapun soal penerbangan, Surono menyarankan kepada otoritas penerbangan supaya menunda penerbangan dari dan ke bandara Sam Ratulangi di Manado. Ia meminta keselamatan penerbangan lebih diperhatikan. "Bukan hak saya menutup penerbangan. Kalau merasa aman, terbang saja," kata dia.

MAHARDIKA SATRIA HADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X