Kapal Pengangkut Batu Bara Terbakar di Merak

Kapal Pengangkut Batu Bara Terbakar di Merak

Kapal tanker milik perusahaan Kangean Energy Indonesia Ltd terbakar di perairan Desa Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Madura, (28/8). ANTARA/str/Eric Ireng

TEMPO.CO, Cilegon - Kapal Motor (KM) Saraswati yang mengangkut batu bara terbakar di Perairan Selat Sunda, tepatnya, 2 kilo meter dari Pantai Salira, Merak, Kota Cilegon, Banten, Jum’at petang tadi. Tidak ada korban jiwa atau terluka dalam kejadian ini.

Dari informasi yang dihimpun, Kapal buatan tahun 1987, milik PT Arpeni Pratama terbakar, ketika sedang melakukan penyedotan (membersihkan) sisa-sisa batu baru, di Perairan Merak. Namun saat kapal tersebut dalam perjalanan menuju Suralaya, kapal mengalami kerusakan mesin dan langsung terbakar.

“Saya kaget, tiba-tiba ada asap tebal dari dek kapal. Kemudian saya bersama awak kapal lainnya langsung lari berhamburan ke luar kapal dengan menggunakan sekoci untuk menyelamatkan diri," kata Deni, salah satu awak kapal, Jumat, 11 Mei 2012.

Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) kelas I Banten, Baptis Sugiharto mengatakan, jika kejadian seperti ini bukan kali pertama terjadi. Ia mengaku, hal serupa juga pernah terjadi akibat pembuangan sisa-sisa batu bara. Namun, kata dia, akibat kejadian itu tidak mengalami kerusakan yang parah. “Kejadian ini sebelumnya pernah terjadi, yang disebabkan oleh mesin penyedot batu baru yang ada di dalam kapal," ujarnya.

Namun, kata Baptis, pihaknya akan menyelidiki lebih lanjut kejadian ini, faktor apa penyebabnya dan kerusakannya. "Kami tidak bisa menaksirkan kerugian, karena belum melakukan penyelidikan,” katanya.

Pantauan di lapangan, kejadian ini mengundang perhatian sejumlah warga setempat yang ingin mengetahui kebakaran tersebut. Hingga saat ini, kapal motor Saraswati pun sudah berhasil dievakuasi ke Pantai Plorida Kelapa Tujuh, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulo Merak.

WASI’UL ULUM


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X