Penerimaan Minyak Turun, Lifting Gas Masuk APBN
Anggota fraksi Partai Golkar Satya Widya Yudha. TEMPO/Imam Sukamto
TEMPO.CO, Jakarta —Pemerintah akan memasukan lifting gas dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012. Dalam anggaran negara sebelumnya pemerintah hanyak memasukan lifting minyak. Anggota Komisi Energi Satya Widya Yudha menilai variabel baru ini tidak banyak mengubah struktur pendapatan dan belanja negara. “Lebih ada kejelasan berapa pendapatan minyak dan berapa pendapatan dari gas,” katanya kepada Tempo di Gedung DPR Rabu 16 Mei 2012.
Pernyataan Satya dibenarkan oleh Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro. “Penerimaannya lebih clear dan terukur,” katanya kepada Tempo di tempat yang sama. Menurut Satya penerimaan dari sektor gas telah dimasukan dalam postur APBN. “Selama ini sudah dihitung terutama pendapatan dari gas, cuma masyarakat tidak mudah melihat,” ujarnya.
Menurut Satya menghitung pendapatan gas tidak semudah menghitung pendapatan dari produksi minyak. Penghitungan pendapatan dari minyak lebih mudah yaitu dengan mengalikan volume minyak dikalikan dengan harga minyak dunia. Namun pendapatan dari gas tidak bisa demikian karena tidak ada harga gas dunia. “Faktor pengalinya menjadi rupiah itu tidak mudah karena harga gas tergantung kontrak,” katanya.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan alasan dimasukkannya lifting gas dalam asumsi ekonomi makro anggaran negara karena negara tidak bisa mengandalkan lagi pendapatan dari lifting minyak terus merosot. "Diperlukan upaya baru untuk menjaga pencapaian target penerimaan negara," katanya.
Pemerintah, lanjut Menteri Agus, menilai produksi gas lebih stabil ketimbang minyak. Cadangan gas dalam negeri mencapai 157,14 triliun kaki kubik (tscf) atau 3 persen dari cadangan gas dunia. Cadanga gas dalam negeri terdiri dari cadangan terbukti 108,4 tscf dan cadangan potensial 48,74 tscf. Pada 2010 produksi gas mencapai 1.577 ribu barel setara minyak per hari (mboepd). Besaran ini naik 159 mboepd dari 1.418 mboepd pada 2009. Pada 2011 produksi gas menurun menjadi 1.461 ribu barel setara minyak per hari.
AKBAR TRI KURNIAWAN
Komentar (0)
Berita Terkait
Foto Terbaru
Top Stories
Editor's Choice
- Siswa SMK Ubah Limbah Plastik Jadi BBM
- Kepala Sekolah di Bandung Tersangka Pencabulan
- Suparman Marzuki Terpilih Sebagai Ketua KY
- Polisi Bantah Salahi Prosedur Saat Demonstrasi BBM
- Mulai 1 Juli, Tarif KRL Turun Signifikan
- Mangia Optimistis Italia Juara Euro U-21
- Pilot Merpati Dilatih Simulator Pesawat Cina
Berita Utama Bisnis
- Rapat Paripurna APBN Perubahan Diwarnai Interupsi
- Pekan Depan, Harga BBM Pasti Naik
- Golkar: Jika BBM Naik, Papua Akan Mendapat Berkah
- Soal Kondom Meoong, Ini Kata Ketua Forum Pemred
- Cuaca Buruk, Bandara Adisucipto Ditutup
- Mark Zuckerberg Dicecar Pemilik Saham Facebook
- Tarif Jembatan Tol Bali Belum Tentu Rp 10 Ribu


